kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.899   23,00   0,13%
  • IDX 6.329   61,14   0,98%
  • KOMPAS100 828   6,26   0,76%
  • LQ45 629   2,90   0,46%
  • ISSI 219   2,60   1,20%
  • IDX30 352   0,70   0,20%
  • IDXHIDIV20 427   -1,09   -0,25%
  • IDX80 95   0,67   0,71%
  • IDXV30 118   0,08   0,06%
  • IDXQ30 111   -0,08   -0,07%

Pertumbuhan Penjualan Ritel Juni 2026 Di Kota Ini Kalahkan Jakarta


Rabu, 12 Agustus 2026 / 13:45 WIB
Pertumbuhan Penjualan Ritel Juni 2026 Di Kota Ini Kalahkan Jakarta
ILUSTRASI. Pertumbuhan Penjualan Ritel Juni 2026 Di Kota Ini Kalahkan Jakarta


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan penjualan eceran di sejumlah kota besar Indonesia menunjukkan tren yang berbeda. Ketika penjualan ritel di Manado dan Medan tumbuh kuat, Jakarta justru diprakirakan mengalami perlambatan pada Juli 2026.

Berdasarkan data Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia (BI), penjualan eceran Manado pada Juni 2026 tumbuh 17,2% secara tahunan atau year on year (yoy). Medan menyusul dengan pertumbuhan 6,6% yoy.

Kinerja tersebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah kota lainnya yang masuk dalam cakupan SPE. Jakarta pada Juni 2026 sebenarnya masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,9% yoy.

Namun, BI memperkirakan pertumbuhan penjualan eceran Jakarta melambat cukup tajam pada Juli 2026 menjadi hanya 1,6% yoy.

Dengan demikian, meskipun masih tumbuh positif, laju penjualan eceran Jakarta jauh lebih rendah dibandingkan Manado dan Medan.

Tonton: 8,96 Juta Batang Rokok Ilegal Disita Bea Cukai di Tanjung Priok

Manado Jadi yang Terkuat

Manado menjadi kota dengan pertumbuhan penjualan eceran tertinggi dalam prakiraan Juli 2026.

BI memperkirakan penjualan eceran Manado tumbuh 24,7% yoy pada Juli 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan Juni yang sebesar 17,2% yoy.

Secara bulanan atau month to month (mtm), penjualan eceran Manado pada Juni tumbuh 2,0%. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan Mei yang sebesar 1,2% mtm.

Pada Juli 2026, penjualan eceran Manado juga diprakirakan tumbuh 6,1% mtm.

Kinerja tersebut membuat Manado menjadi salah satu daerah dengan momentum pertumbuhan ritel paling kuat di tengah tekanan penjualan eceran secara nasional.

Tonton: Misteri Hilangnya 2000 SGD dari Amplop untuk Menhut, KPK Terus Telusuri

Medan Menyusul Manado

Medan juga menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Pada Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Medan berada di level 373,0, dengan pertumbuhan 6,6% yoy.

Secara bulanan, penjualan eceran Medan tumbuh 2,0% pada Juni. Kinerja tersebut berbalik positif setelah pada Mei 2026 mengalami kontraksi 0,8% mtm.

BI memperkirakan momentum tersebut berlanjut pada Juli. IPR Medan diprakirakan mencapai 380,8, dengan pertumbuhan 15,6% yoy dan 7,9% mtm.

Dengan prakiraan tersebut, Medan menjadi kota dengan pertumbuhan penjualan eceran tahunan terbesar kedua setelah Manado.

Tonton: Daerah Krisis Bayar Gaji PPPK, Pemerintah Kucurkan Rp19 Triliun

Jakarta Melambat

Berbeda dengan Manado dan Medan, penjualan eceran Jakarta diprakirakan mengalami perlambatan.

Pada Juni 2026, IPR Jakarta berada di level 51,7, meningkat dari 49,7 pada Mei. Secara tahunan, penjualan eceran Jakarta masih tumbuh 6,9% yoy.

Secara bulanan, kinerja Jakarta pada Juni juga masih positif dengan pertumbuhan 3,2% mtm.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan berbalik pada Juli. BI memprakirakan IPR Jakarta turun menjadi 51,1. Pertumbuhan tahunan penjualan eceran Jakarta pun diperkirakan melambat menjadi 1,6% yoy.

Secara bulanan, penjualan eceran Jakarta diprakirakan terkontraksi 1,2% mtm. Artinya, Jakarta bukan mengalami kontraksi secara tahunan pada Juli, melainkan tetap tumbuh positif tetapi dengan laju yang jauh lebih lambat.

Tonton: Pertalite Bakal Dibatasi untuk Orang Kaya, Ini Rencana Pemerintah

Bandung dan Denpasar Juga Tumbuh

Perbedaan kinerja penjualan eceran juga terlihat di kota-kota lainnya.

Pada Juli 2026, penjualan eceran Bandung diprakirakan tumbuh 9,8% yoy. Denpasar menyusul dengan pertumbuhan 7,6% yoy.

Sementara itu, sejumlah kota diprakirakan masih mengalami kontraksi secara tahunan. Surabaya diprakirakan terkontraksi 1,5%, Banjarmasin 4,7%, dan Makassar 0,5%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan aktivitas ritel tidak berlangsung secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Penjualan Ritel Nasional Masih Tertekan

Secara nasional, penjualan eceran pada Juni 2026 masih menghadapi tekanan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang Anda berikan, IPR nasional Juni 2026 berada di level 225,0 atau mengalami kontraksi 3,0% yoy. Kontraksi tersebut membaik dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 3,9% yoy.

Secara bulanan, kinerja penjualan eceran justru membaik. Penjualan Juni tumbuh 0,7% mtm setelah pada Mei mengalami kontraksi 1,5% mtm.

Perbaikan tersebut antara lain didorong kenaikan penjualan sejumlah kelompok barang. Penjualan kelompok barang lainnya tumbuh 6,9% mtm, suku cadang dan aksesori 3,7%, perlengkapan rumah tangga lainnya 2,8%, serta bahan bakar kendaraan bermotor 3,5%.

Sementara itu, penjualan makanan, minuman, dan tembakau tumbuh tipis 0,1% mtm.

Perbaikan permintaan tersebut terjadi di tengah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Baca Juga: Pemerintah Kebut Perpres Ojol, Pastikan Pengemudi Tidak Dikenai Pajak

Suku Cadang Masih Jadi Penopang

Jika dilihat berdasarkan kelompok barang, kinerja penjualan eceran juga menunjukkan perbedaan.

Pada Juni 2026, penjualan suku cadang dan aksesori tumbuh 18,8% yoy. Penjualan perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 2,8%, sedangkan kelompok barang lainnya tumbuh 1,1% yoy.

Di sisi lain, penjualan makanan, minuman, dan tembakau masih terkontraksi 3,6% yoy. Penjualan sandang juga turun 3,1% yoy.

Untuk Juli 2026, BI memperkirakan penjualan makanan, minuman, dan tembakau kembali tumbuh 1,6% yoy. Penjualan suku cadang dan aksesori diprakirakan tumbuh 10,8%, sedangkan perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 2,5%.

Secara bulanan, penjualan eceran Juli diprakirakan turun 0,3% mtm. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi seiring normalisasi permintaan setelah periode HBKN dan libur sekolah.

Meski demikian, kontraksi tersebut masih lebih baik dibandingkan Juli 2025 yang tercatat turun 4,1% mtm.

Baca Juga: Arahan Presiden, Bunga Kredit Program Mekaar Turun Jadi 8% Mulai September 2026

Konsumsi Antarwilayah Belum Seragam

Perbedaan kinerja antara Manado, Medan, dan Jakarta memberikan gambaran bahwa aktivitas konsumsi masyarakat belum bergerak dengan kecepatan yang sama di setiap wilayah.

Manado diprakirakan mencatat pertumbuhan penjualan eceran tertinggi pada Juli 2026 sebesar 24,7% yoy. Medan berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 15,6% yoy.

Di sisi lain, Jakarta hanya diprakirakan tumbuh 1,6% yoy.

SPE sendiri merupakan survei bulanan BI yang digunakan sebagai salah satu indikator dini untuk melihat arah perkembangan perekonomian dari sisi konsumsi. Survei tersebut dilakukan terhadap pengecer di sejumlah kota dan mencakup berbagai kelompok barang.

Perbedaan pertumbuhan antarwilayah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan konsumsi dan aktivitas perdagangan ritel masih berlangsung tidak merata.

Namun, untuk memastikan apakah tingginya pertumbuhan Manado dan Medan serta perlambatan Jakarta merupakan perubahan pola konsumsi yang bersifat permanen, masih diperlukan pengamatan terhadap data penjualan eceran pada bulan-bulan berikutnya.





Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/08/12/112313926/jakarta-kalah-dari-manado-dan-medan-peta-konsumsi-ri-mulai-bergeser?page=all#page2.

Masjid Istiqlal Masuk Pasar Modal, Dana Wakaf Bakal Diinvestasikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×