kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

PNBP Berpeluang Lampaui Target, Harga Komoditas Jadi Penopang


Senin, 21 September 2026 / 20:17 WIB
PNBP Berpeluang Lampaui Target, Harga Komoditas Jadi Penopang
ILUSTRASI. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berpotensi mencatatkan realisasi di atas target tahun 2026 seiring peluang penguatan harga komoditas ekspor (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berpotensi mencatatkan realisasi di atas target tahun 2026 seiring peluang penguatan harga komoditas ekspor Indonesia di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, kenaikan harga komoditas berpeluang memberikan tambahan penerimaan negara, khususnya dari sektor sumber daya alam (SDA).

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menetapkan target PNBP tahun ini sebesar Rp 575,1 triliun dalam outlook Lapsem. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal dalam APBN 2026 sebesar Rp 459,2 triliun.

Menurut David, kenaikan harga minyak mentah dapat turut mendorong harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia, terutama batubara dan crude palm oil (CPO).

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari sektor SDA.

Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp 29,77 T, Cetak Rekor Tertinggi Dalam 10 Tahun

"Bisa saja melampaui target mengingat masih tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah. Harga komoditas yang diekspor Indonesia cukup berkorelasi dengan pergerakan harga minyak," kata David kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Meski demikian, David mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang dapat menahan penerimaan dari sektor SDA. Salah satu risiko tersebut berasal dari sisi produksi, terutama apabila terjadi gangguan akibat fenomena El Nino.

Selain itu, perkembangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kebijakan tersebut berpengaruh terhadap volume produksi komoditas tambang yang pada akhirnya berdampak terhadap penerimaan negara.

"Penurunan produksi menjadi faktor risiko terkait El Nino dan RKAB," ujar David.

Realisasi PNBP Capai Rp 435,1 Triliun

Sebagai informasi, realisasi PNBP hingga 31 Agustus 2026 telah mencapai Rp 435,1 triliun atau 94,8% dari target APBN 2026. Realisasi tersebut juga setara dengan 75,7% dari outlook semester I 2026.

Baca Juga: Kemenkeu Ungkap Alasan Yield SBN Diprediksi Tetap Terkendali hingga Akhir 2026

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pendapatan SDA menjadi salah satu komponen utama yang menopang realisasi PNBP hingga Agustus 2026.

Hingga akhir Agustus 2026, penerimaan SDA tercatat sebesar Rp 194,6 triliun atau telah mencapai 74,5% dari target APBN 2026.

"Kita bisa lihat PNBP ini komponennya adalah pendapatan sumber daya alam yang Rp 194,6 triliun. Dan ini sudah hampir 70% terhadap target," ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (18/9/2026).

Dari sektor minyak dan gas bumi (migas), Kementerian Keuangan mencatat penerimaan SDA masih memiliki ruang untuk tumbuh seiring dengan kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).

Namun, realisasi penerimaan SDA migas hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 58% dari outlook.

Sementara itu, penerimaan SDA nonmigas menunjukkan kinerja yang lebih solid. Realisasinya telah mencapai 81% dari outlook, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata capaian total PNBP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×