Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • EMAS663.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Angka balita kekurangan gizi turun 27,5%

Selasa, 03 Oktober 2017 / 22:17 WIB

Angka balita kekurangan gizi turun 27,5%

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - Pemerintah berhasil menurunkan angka balita yang terjangkit stunting (kekurangan gizi kronis). Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, angka balita stunting di Indonesia berhasil diturunkan dari 29 % di tahun 2015 menjadi 27,5 % di tahun 2016.

Penurunan angka balita stunting di Indonesia merupakan hasil kontribusi dari dua program intervensi yang dilakukan oleh pemerintah. Program pertama adalah pemberian beras sejahtera (rastra). Program rastra ditujukan untuk memenuhi kecukupan kalori. Setiap keluarga penerima manfaat diberikan jatah 15 kg beras.


Kedua adalah Program Keluarga Harapan (PKH). Di dalam program ini, setiap penerima manfaat akan memperoleh bantuan sebesar 1,89 juta per tahun. Melalui kedua program intervensi pemerintah ini, angka balita stunting diharapkan dapat diturunkan kembali.

Kasus stunting  merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi prioritas pemerintah. Stunting merupakan gejala kekurangan gizi yang ditandai tinggi badan yang rendah dibanding anak yang seusia. Seorang anak dinyatakan stunting apabila tinggi badan yang dimiliki berada di bawah dua kali standar deviasi.

Stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan anak. “lebih jauh, stunting berdampak pada perilaku, kecerdasan, hingga nantinya pada jangka panjang adalah pendapatan seseorang” jelas Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan Kemenko PMK Sigit Priohutomo dalam keterangan tertulis, Selasa (3/10).

 Sigit juga menambahkan, berdasarkan data yang dimilikinya, seseorang yang memiliki stunting pada jangka panjang akan memiliki pendapatan 20 % lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka yang normal.

Sigit berharap kepada masyarakat agar sangat memperhatikan dua hal penting untuk mencegah stunting. “Pertama adalah fokus pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dari anak lahir hingga berusia dua tahun” ujar Sigit.

Hal kedua adalah pemenuhan faktor gizi dari ibu. “Terutama adalah anemia, walaupun kita mengkonsumsi makanan bergizi, jika ibu mengalami anemia maka oksigen di dalam tubuh tidak mencukupi dan akan berdampak buruk kepada anak yang ada di dalam kandungan” jelas Sigit.  


Reporter: Yudho Winarto
Editor: Yudho Winarto
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.2909 || diagnostic_web = 0.7948

Close [X]
×