kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.940   37,00   0,22%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

Akses Mineral Kritis RI ke AS Berpotensi Tambah Ekspor US$ 9,4 Miliar pada 2026


Selasa, 30 Desember 2025 / 19:10 WIB
Akses Mineral Kritis RI ke AS Berpotensi Tambah Ekspor US$ 9,4 Miliar pada 2026
ILUSTRASI. Pembukaan akses mineral kritis Indonesia ke Amerika Serikat (AS) berpotensi memperkuat nilai perdagangan bilateral kedua negara. (Dok/MIND ID)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai kebijakan pembukaan akses mineral kritis Indonesia ke Amerika Serikat (AS) berpotensi memperkuat nilai perdagangan bilateral kedua negara.

Menurut Banjaran, penurunan tarif impor AS, bahkan hingga 0% untuk sejumlah komoditas, akan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Kebijakan tersebut diperkirakan berpotensi menambah nilai ekspor Indonesia hingga US$ 9,4 miliar pada 2026.

Di sisi lain, Indonesia juga berkomitmen menghapus tarif atas sekitar 99% produk asal AS. Langkah ini diproyeksikan mendorong peningkatan impor, terutama untuk sektor bernilai tinggi, dengan estimasi tambahan impor mencapai US$ 13,5 miliar.

Baca Juga: Buka Akses Mineral Kritis ke AS Demi Tarif 0% Komoditas, Ekonom: Indonesia Rugi

"Dampak bersih kebijakan tarif AS yang mengubah landscape perdagangan global diperkirakan tetap positif terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia, dengan potensi kenaikan surplus sekitar US$ 13 miliar," ungkap Banjaran kepada Kontan, Selasa (30/12/2025).

Lebih lanjut, terkait ekspor nikel Indonesia yang cenderung ke negara China, disebut Banjaran hal tersebut karena pengaruh struktur rantai pasok global yang hingga kini masih terkonsentrasi di Tiongkok.

"Terbatasnya penyerapan nikel Indonesia oleh AS kami lihat bukan disebabkan preferensi penjualan ke Tiongkok, melainkan struktur rantai pasok global yang masih terkonsentrasi di negara tersebut," ungkap Banjaran.

Ia menyebut, sekitar 78% ekspor nikel Indonesia terserap pasar Tiongkok karena produk pengolahan domestik Indonesia dapat langsung diserap oleh industri di negara tersebut.

Baca Juga: Ekonom Ingatkan Kesepakatan Mineral Kritis Indonesia dengan AS Harus Fair

Sementara itu, AS dinilai masih memiliki kapasitas smelting dan refining nikel yang terbatas, khususnya untuk mendukung industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), sehingga belum mampu menyerap pasokan nikel Indonesia secara optimal.

Lebih lanjut, Banjaran menilai pembukaan akses mineral kritis ke AS merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperluas potensi kerja sama perdagangan.

"Akses ini menciptakan peluang diversifikasi tujuan ekspor mineral kritis sehingga meningkatkan fleksibilitas bagi pelaku usaha," jelas Banjaran.

Selanjutnya: Perhapi, IMA, APBI Buka Suara Soal Syarat Lunas Tunggakan Pajak untuk Pengajuan RKAB

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (31/12)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×