Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia berpotensi menekan aktivitas ekonomi di daerah terdampak.
Pemerintah kini masih memantau dampak bencana terhadap aktivitas masyarakat serta berbagai program pemerintah di sejumlah provinsi.
Airlangga mengatakan, daerah yang terdampak bencana berpotensi mengalami kontraksi ekonomi karena aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi mengalami gangguan.
Baca Juga: Purbaya Buka Keran Anggaran Bencana, BNPB Diminta Jangan Asal Ajukan Dana
"Di daerah yang terdampak pasti terjadi kontraksi dan kami masih monitor program-program apa yang terkena dan di berbagai provinsi tersebut," ujar Airlangga kepada awak media, Senin (7/9/2026).
Selain bencana alam, pemerintah juga mencermati dampak letusan sejumlah gunung api terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Airlangga menyebut saat ini terdapat sekitar lima hingga enam gunung yang mengalami letusan.
Menurutnya, kondisi tersebut telah menyebabkan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terdampak mengalami penurunan.
"Sekarang juga kami sedang monitor akibat daripada letusan 5-6 gunung di Indonesia ini terutama untuk aktivitas masyarakat yang sangat berkurang," katanya.
Gangguan juga mulai dirasakan pada sektor logistik, khususnya transportasi udara. Airlangga mengatakan gangguan penerbangan berpotensi memengaruhi distribusi barang karena sektor penerbangan juga memiliki peran dalam pengangkutan kargo.
"Logistik sudah pasti di sektor penerbangan sudah terjadi gangguan karena sektor penerbangan kan juga ada kaitannya dengan kargo," jelasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Semua Warga RI Punya Rekening, BRI & BSI Diminta Siapkan Akses
Pemerintah, lanjut Airlangga, masih memantau durasi gangguan penerbangan di wilayah terdampak.
Lamanya penutupan akses penerbangan menjadi salah satu faktor yang akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan distribusi logistik.
"Kita monitor karena kita masih monitor berapa lama ini harus ditutup," ujar Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













