Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang berhasil mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonominya di tengah gelombang revisi turun yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) terhadap sejumlah negara di kawasan.
Dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) edisi Juli 2026, ADB tetap memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026, tidak berubah dibandingkan perkiraan pada April lalu.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara tetangga yang justru mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan.
Kamboja misalnya, proyeksi pertumbuhan ekonominya dipangkas menjadi 4,1% dari proyeksi sebelumnya 4,5%. Kemudian proyeksi pertumbuhan ekonomi Filipina dipangkas dari 4,4% menjadi 3,8%.
Baca Juga: Inilah Penjelasan Polisi Terkait Penggeledahan 12 Lokasi, 74 Kg Emas Batangan Disita
Di tingkat kawasan, ADB juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang Asia dan Pasifik menjadi 4,9% pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi April sebesar 5,1%.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ASEAN turun tipis menjadi 4,5% dari sebelumnya 4,6%.
Meski demikian, Indonesia tetap diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia berkembang maupun ASEAN.
Di ASEAN, laju pertumbuhan Indonesia hanya berada di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2% pada 2026.
Kepala Ekonom ADB Albert Park menilai bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik disebabkan oleh ekslasi konflik serta ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.
"Pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik masih tetap tangguh, tapi gangguan berkepanjangan akibat konflik memerlukan keseimbangan kebijakan yang hati-hati antara mendukung pertumbuhan dengan menjaga inflasi," ujar Albert Park dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, kedua kondisi tersebut dapat makin memperketat pasar energi, meningkatkan premium risiko, serta memperparah inflasi dan tekanan eksternal.
Baca Juga: Realisasi PNBP Melonjak, Pemerintah Optimistis Target 2026 Terlampaui
Kondisi keuangan global yang makin ketat membawa berbagai risiko tambahan, yaitu kenaikan imbal hasil obligasi negara dan biaya pinjaman, serta membesarnya proyeksi defisit fiskal di sejumlah perekonomian.
Tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan juga dapat menekan kegiatan ekonomi, sedangkan kenaikan harga pupuk terus mengancam produksi pertanian dan ketahanan pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














