kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.114   84,00   0,47%
  • IDX 5.885   11,54   0,20%
  • KOMPAS100 764   1,18   0,15%
  • LQ45 584   0,64   0,11%
  • ISSI 203   0,34   0,17%
  • IDX30 330   -0,33   -0,10%
  • IDXHIDIV20 408   -2,33   -0,57%
  • IDX80 87   0,22   0,25%
  • IDXV30 111   -0,49   -0,44%
  • IDXQ30 106   -0,51   -0,48%

Realisasi PNBP Melonjak, Pemerintah Optimistis Target 2026 Terlampaui


Kamis, 09 Juli 2026 / 13:13 WIB
Realisasi PNBP Melonjak, Pemerintah Optimistis Target 2026 Terlampaui
ILUSTRASI. PELNI Angkut 335.415 Metrik Ton Batubara ke PLTU pada Semester I-2026 (PELNI/dok)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah optimistis penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada 2026 akan melampaui target APBN.

Dalam outlook APBN 2026, proyeksi PNBP dinaikkan menjadi Rp 575,1 triliun atau setara 125,2% dari target awal Rp 459,2 triliun, didorong kuatnya realisasi penerimaan pada semester I-2026.

Hingga akhir semester I-2026, realisasi PNBP telah mencapai Rp 271 triliun atau sekitar 59% dari target APBN 2026. Angka tersebut tumbuh 21,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, peningkatan penerimaan tersebut didukung oleh masih terjaganya harga sejumlah komoditas strategis.

Baca Juga: Realisasi PNBP Semester I Naik 21,6% Jadi Rp 271 Triliun, Didorong Harga Komoditas

"Ini berasal dari terjaganya harga beberapa komoditas strategis," ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (8/7/2026).

Purbaya menjelaskan, kenaikan PNBP terutama berasal dari membaiknya penerimaan sumber daya alam (SDA), PNBP kementerian/lembaga (K/L), serta Badan Layanan Umum (BLU).

Penerimaan SDA migas terdongkrak kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP), peningkatan lifting migas, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara itu, PNBP SDA nonmigas meningkat berkat penguatan harga sejumlah mineral seperti nikel, tembaga, emas, dan perak.

Di sisi lain, penerimaan dari kekayaan negara dipisahkan (KND) mengalami penurunan karena dividen BUMN perbankan kini tidak lagi disetorkan ke kas negara, melainkan dialihkan ke BPI Danantara.

Meski demikian, penurunan tersebut tertutupi oleh meningkatnya PNBP K/L dan BLU yang didorong kenaikan pendapatan layanan pemerintah, penegakan hukum, layanan kesehatan, serta ekspor CPO dan produk turunannya.

Baca Juga: Permintaan Lahan Industri Melonjak, SSIA Optimistis Target Penjualan 2026 Tercapai

Ekonom BTN Myrdal Gunarto menilai, kenaikan outlook PNBP menunjukkan pemerintah masih memiliki ruang untuk memperbesar penerimaan negara di luar sektor perpajakan.

Menurutnya, peningkatan itu ditopang oleh kinerja BLU, sektor komoditas, serta membaiknya penerimaan bea dan cukai di tengah tidak adanya lagi kontribusi dividen BUMN.

Meski prospeknya positif, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman mengingatkan pemerintah agar tidak bergantung pada tingginya harga komoditas.

Dengan harga batubara, nikel, dan CPO yang mulai kembali normal serta permintaan global yang melemah, peningkatan PNBP ke depan perlu ditopang oleh kenaikan produksi, optimalisasi lifting migas, penguatan kinerja BLU, dan pemanfaatan aset negara secara lebih produktif.

Baca Juga: OJK Optimistis Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp 250 Triliun Tercapai pada 2026

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengarahkan strategi PNBP pada penguatan kualitas sumber penerimaan yang berkelanjutan, bukan hanya mengejar kenaikan target nominal setiap tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×