kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Ada Ancaman Resesi di 2023, BKF Pesimistis Target Pertumbuhan Ekonomi 5,3% Tercapai


Selasa, 20 Desember 2022 / 14:02 WIB
Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (15/12/2022). Ada Ancaman Resesi di 2023, BKF Pesimistis Target Pertumbuhan Ekonomi 5,3% Tercapai.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

Sementara, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di atas 4% dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2019 tercatat sebesar 4,97% yoy.

"Jadi Indonesia termasuk yang cukup resilien, salah satunya karena eksposur global kita masih tidak terlalu besar," katanya.

Kemudian, Abdurohman bilang, ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas yang masih tetap diperlukan. Berbeda dengan ekspor berbasis consumer goods yang kemungkinan akan terdampak ketidakpastian ekonomi di tahun depan.

Baca Juga: Penyedia Layanan Cloud Computing Elitery Membidik Dana IPO Rp 75 Miliar

"Biasanya kalau global-nya turun, yang paling banyak adalah negara-negara yang dominan pada ekspor berbasis consumer goods," katanya.

Tak hanya itu, Ia mengungkapkan bahwa mitra dagang utama Indonesia juga masih cukup kuat, sebut saja India yang memiliki pangsa pasar cukup besar.

"Jadi semacam ada bantalan di 2023, ada dampaknya terutama beberapa sektor yang memang mungkin tekstil juga berpengaruh, namun secara keseluruhan dampaknya belum terlalu besar," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×