kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.768.000   18.000   0,65%
  • USD/IDR 17.723   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Yield SRBI dan SBN Berpeluang Turun, Rupiah dan Asing Jadi Penentu


Selasa, 25 Agustus 2026 / 18:14 WIB
Yield SRBI dan SBN Berpeluang Turun, Rupiah dan Asing Jadi Penentu
ILUSTRASI. Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih berpeluang berlanjut.

Namun, penurunan yield tidak serta-merta membuat investor asing meninggalkan pasar keuangan Indonesia.

Sebaliknya, arus modal asing dan nilai tukar rupiah masih berpotensi menguat apabila penurunan yield mencerminkan membaiknya persepsi risiko terhadap aset domestik.

Baca Juga: Walhi: Cabut Izin Saja Tak Cukup untuk Hentikan Karhutla Berulang

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan, arus modal asing masih berpeluang positif setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Kebijakan tersebut juga dibarengi dengan perluasan insentif untuk menarik modal, menurunkan biaya lindung nilai, memperkuat intervensi rupiah, serta memperbaiki likuiditas.

Menurut Josua, kondisi tersebut membuat risiko kebijakan menjadi lebih terukur bagi investor asing. Bahkan, meski yield SRBI mulai menurun, instrumen tersebut masih menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik.

Pada awal Agustus, yield SRBI tenor enam bulan berada di sekitar 7,19%, tenor sembilan bulan 7,40%, dan tenor 12 bulan 7,59%.

Meski telah turun dari puncaknya pada akhir Juni hingga awal Juli, level tersebut masih memberikan tambahan imbal hasil yang cukup besar dibandingkan BI Rate 5,75%.

"SRBI tetap menarik meskipun imbal hasilnya menurun," ujar Josua kepada Kontan belum lama ini.

Josua mencatat, arus modal asing sepanjang tahun hingga Agustus 2026 masih didominasi oleh SRBI sekitar US$ 0,94 miliar. Sementara itu, pasar saham masih mencatat arus keluar sekitar US$ 6,87 miliar.

Baca Juga: Prabowo Puji Bos Danantara, Sebut Layak Dapat Bintang Tanda Kehormatan

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan belum ada bukti bahwa investor asing telah meninggalkan SRBI. Namun, komposisi arus modal mulai menunjukkan perubahan.=

Kepemilikan asing pada SBN meningkat dari sekitar Rp 892 triliun pada akhir Juli menjadi Rp 909 triliun pada 20 Agustus. Artinya, kepemilikan asing di SBN bertambah sekitar Rp 17 triliun sepanjang bulan berjalan.

Di sisi lain, posisi SRBI yang beredar turun dari Rp 1.059,3 triliun pada akhir Juli menjadi Rp 1.038,9 triliun pada 19 Agustus.

Josua menilai perubahan tersebut merupakan perkembangan yang sehat apabila terus berlanjut.

Pasalnya, BI tidak perlu terus memperbesar penerbitan SRBI untuk menarik dana asing, sementara sebagian permintaan investor dapat secara bertahap bergeser ke SBN.

Namun, proses tersebut masih berada pada tahap awal karena arus masuk ke SRBI pada Agustus masih jauh lebih besar dibandingkan SBN.

Baca Juga: Beban Bunga Utang Melonjak di 2027, Pemerintah Dinilai Lalai Efisiensi Anggaran

Rupiah Jadi Penentu

Josua menilai penurunan yield SRBI maupun SBN tidak otomatis berdampak negatif terhadap rupiah. Hal yang lebih penting bagi investor asing adalah tingkat pengembalian setelah memperhitungkan perubahan nilai tukar dan biaya lindung nilai.

Rupiah pada 21 Agustus berada di sekitar Rp 17.693 per dolar AS dan telah menguat sekitar 1,7% sepanjang Agustus. Meski demikian, rupiah masih melemah sekitar 5,7% sejak awal tahun.

"Jika rupiah stabil atau terus menguat, SRBI dapat tetap menarik meskipun imbal hasilnya turun beberapa puluh basis poin," kata Josua.

Dengan demikian, ruang penurunan yield SRBI dan SBN masih terbuka selama stabilitas rupiah tetap terjaga.

Bahkan, penurunan yield dapat menjadi sinyal positif apabila terjadi karena meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.

Baca Juga: Transfer ke Daerah 2027 Hanya Rp735 Triliun, KPPOD Soroti Tekanan Fiskal Daerah

Pada pasar SBN, misalnya, yield SBN tenor 10 tahun pada 21 Agustus berada di sekitar 6,95%, turun 23 basis poin sepanjang Agustus dan 38 basis poin sepanjang kuartal berjalan.

Menurut Josua, penurunan yield tersebut tidak selalu berarti investor asing kehilangan minat. Sebaliknya, arus masuk ke pasar obligasi dapat mendorong harga SBN naik sehingga yield turun.

Investor asing juga tidak hanya mengejar kupon, tetapi dapat memperoleh capital gain ketika harga obligasi meningkat akibat penurunan yield.

"Arus modal asing tetap dapat meningkat meskipun imbal hasil SRBI dan SBN menurun, asalkan penurunannya mencerminkan turunnya risiko Indonesia dan bukan sekadar penurunan imbal hasil nominal," jelasnya.

BI Diminta Turunkan Yield secara Terukur

Meski demikian, Josua memperkirakan penurunan yield tidak akan berlangsung tanpa batas. BI masih perlu memperhatikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, harga minyak, kondisi rupiah, inflasi, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Pada 21 Agustus, yield US Treasury tenor 10 tahun masih berada di sekitar 4,73%, sedangkan SBN Indonesia tenor 10 tahun sekitar 6,95%. Selisih atau spread keduanya mencapai sekitar 2,2 poin persentase.

Spread tersebut masih cukup menarik apabila rupiah stabil. Namun, daya tariknya dapat cepat tergerus apabila rupiah kembali melemah.

Baca Juga: Purbaya Tinjau Pengawasan MBG hingga KDMP di Jawa Barat, Minta Kinerja Diukur

Karena itu, Josua menilai BI akan membiarkan yield SRBI turun secara terukur, bukan secara agresif. Strategi ini penting agar penurunan yield tetap sejalan dengan stabilitas nilai tukar dan keberlanjutan arus modal asing.

"Yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar mempertahankan arus asing dengan membayar imbal hasil SRBI tinggi, tetapi meningkatkan kualitas arus modalnya," kata Josua.

Dalam jangka pendek, SRBI masih diperlukan sebagai penyangga rupiah. Namun, secara bertahap akan lebih sehat apabila investor memperpanjang penempatannya dari SRBI menuju SBN dan selanjutnya ke investasi langsung.

Dengan kondisi tersebut, kombinasi antara yield yang lebih rendah, arus modal asing yang tetap masuk, dan rupiah yang stabil dapat menjadi indikasi bahwa persepsi risiko terhadap aset Indonesia semakin membaik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×