Reporter: Genta Disa | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Dana abadi untuk riset bertambah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menyebut Presiden Prabowo Subianto baru saja menambahkan Rp 20 triliun untuk dana abadi riset.
Tambahan dana abadi riset tersebut untuk mendorong inovasi dan memperkuat keterkaitan riset dengan kebutuhan industri.
“2027 saya belum berikan angkanya karena masih ada lagi penambahan-penambahan. Tetapi satu penambahan yang luar biasa, Bapak Presiden baru saja menginjeksikan Rp 20 triliun kepada dana abadi riset. Hanya untuk dana riset, dana abadi riset,” ujar Stella dalam sambutannya pada PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Stella menyebutkan, kalau anggaran riset di Kemendiktisaintek saja pada 2024 mencapai Rp 1,47 triliun. Anggaran tersebut meningkat 118% menjadi Rp 2,57 triliun pada 2025, kemudian naik lagi menjadi Rp 3,09 triliun pada 2026.
Baca Juga: Ditjen Pajak: Baru 25% Perusahaan Multinasional Terapkan Pajak Minimum Global
Menurut Stella, peningkatan pendanaan diperlukan untuk memperkuat kompetisi antarpeliti agar perguruan tinggi menghasilkan inovasi baru.
Ia menilai, penelitian yang terus berulang dengan hasil serupa tidak akan cukup untuk mendukung pengembangan industri berbasis teknologi.
“Kalau kita ada kompetisi antara peneliti-peneliti kita, tidak mungkin hasilnya sama, karena berlomba-lomba untuk yang menjadi yang terbaik untuk bisa mendapatkan dana riset. Ini yang sudah terjadi,” katanya.
Ia mengungkapkan, peningkatan anggaran juga diikuti persaingan yang lebih ketat untuk memperoleh hibah penelitian. Meski begitu, jumlah penerima hibah juga meningkat.
Selain meningkatkan pendanaan, Kemendiktisaintek mengarahkan penelitian agar menjawab persoalan yang dihadapi industri.
Stella menyebut lebih dari 50% dana riset kementeriannya dibuka untuk penelitian berorientasi pada kebutuhan pelaku usaha.
Stella juga mengatakan, sekitar 60% dana riset kementeriannya disalurkan kepada perguruan tinggi swasta. Pendanaan tersebut menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, tidak hanya perguruan tinggi negeri yang telah dikenal luas.
Dalam pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), kata Stella, riset menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan teknologi yang efisien dan terjangkau.
“Inovasi, riset untuk mendapatkan EV technology yang paling efisien. Di dalam EV, efisiensi adalah segalanya. Tanpa efisiensi, tidak akan kita bisa membuat motor dan mobil listrik yang murah, yang bisa dijangkau oleh masyarakat. Kalau mobil dan motor listriknya masih terus lebih mahal daripada harga BBM-nya, tentu saja kita tidak akan bisa menjadi industri yang besar,” kata Stella.
Pengembangan industri kendaraan listrik juga berkaitan dengan ketahanan dan kemandirian energi, terutama di tengah gejolak pasokan energi dunia.
Baca Juga: DJP: Program Penghapusan Sanksi Pajak Bukan Tax Amnesty
Menurut Stella, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong peralihan ke kendaraan listrik dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Stella menekankan, pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan pembelian teknologi dari luar negeri. Indonesia perlu membangun kemampuan riset dan inovasi sendiri agar dapat mengembangkan ekosistem industri secara berkelanjutan.
“Technology cannot be bought. You have to build it,” kata Stella, mengutip pernyataan Profesor C.C. Chan, pendiri Asian EV, yang turut hadir dalam PEVC 2026.
Menurutnya, pengalaman China dalam mengembangkan industri kendaraan listrik menunjukkan pentingnya dukungan riset, ketersediaan tenaga kerja terampil, dan kebijakan yang menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














