Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Wabah virus nipah (NiV) yang menjangkit lima kasus di India memicu kekhawatiran publik. Infeksi virus ini diketahui memiliki tingkat kematian yang tinggi, pada angka 40–75 persen menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Situasi tersebut memicu sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan, salah satunya Indonesia.
Meski belum ditemukan kasus virus nipah di tanah air hingga pertengahan Januari 2026, Kementerian Kesehatan Indonesia memutuskan untuk memperketat pemantauan penyebaran virus nipah, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Pengawasan dilakukan secara aktif lewat sistem survelians penyakit emerging, dilakukan terutama pada pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan.
Lantas, bagaimana masyarakat Indonesia harus bersikap atas potensi penyebaran wabah virus nipah ini?
Dokter imbau jangan gegabah dan jangan panik
Dalam situasi semacam ini, Spesialis Patologi Klinik dan Imunologi Klinik Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), PhD, FISQua, CHAE mengimbau supaya masyarakat tidak bersikap gegabah. Namun juga tidak larut-larut dalam kepanikan.
"Kalau ada hal seperti ini, kita jangan gegabah tapi juga tidak perlu resah. Cari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan lakukan upaya untuk bertanggung jawab," beber Tonang saat dihubungi Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Guru Honorer: Rp 400.000 Masuk Rekening, Cek Tanggal Cairnya!
Upaya bertanggung jawab yang dimaksud Tonang dimulai dari kesadaran individu dalam meminimalisir risiko penularan virus.
Pada prinsipnya hampir mirip dengan upaya pencegahan virus lainnya.
"Ketika kita merasa sakit, ya kita harus menjaga dari risiko. Misalnya, memakai masker dan sebagainya kalau kita dalam posisi sakit," kata Tonang.
Sementara itu, apabila sedang berada di sekitar orang sakit, maka jaga jarak dan menghindari kontak erat menjadi langkah penting pencegahan.
"Kalau melihat orang yang sedang sakit, ya kita menghindari kontak dan menjaga jarak dahulu," tambah Tonang.
Tonang menegaskan hal ini berlaku juga buat semua bukan hanya untuk nipah.
Bukan virus baru
Virus nipah bukan merupakan virus yang benar-benar baru menetas ke permukaan. Tonang menjelaskan, virus nipah tergolong dalam kelompok penyakit zoonotik, yakni penyakit yang berasal dari hewan dan berpotensi menular ke manusia.
Lebih lanjut, Tonang menambahkan risiko penularan tersebut memang ada, meskipun tidak selalu terjadi.
"Virus nipah itu termasuk dalam golongan zoonotik. Jadi memang, penyakit pada hewan yang memiliki risiko yang dapat menular ke manusia. Risiko itu ada, tapi belum tentu terjadi," ucapnya.
Virus nipah pertama kali terdeteksi sekitar tahun 1998–1999 di Malaysia.
Baca Juga: KUA Kini: Bukan Cuma Nikah, 48 Layanan Baru Siap Bantu Masyarakat!
"Ditemukan pertama itu di dekat sungai Nipah, makanya disebut juga dengan virus Nipah. Ada virus di sebuah peternakan babi di dekat sungai tersebut yang mewabah waktu itu," ucap Tonang.
"Maka beberapa negara memang mengambil sikap sangat hati-hati dan sikap yang tegas, karena memang saat itu kalau tidak salah ada 276 yang terpapar dan 106 meninggal," tambahnya.
Dari angka tersebut, maka sempat muncul anggapan bahwa virus ini akan sangat berisiko tinggi.













