Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Data Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai total nutang luar negeri (ULN) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menurun pada Oktober 2025.
Berdasarkan perhitungan KONTAN, total ULN BUMN mencapai US$ 40,4 miliar pada Oktober 2025 atau setara Rp 673,5 triliun (kurs Rp 16,670 per dolar AS).
Angka ini mengalami penurunan 2,53% secara bulanan atau month to month (MtM) dibandingkan September 2025 yang mencapai US$ 41,08 miliar. Juga turun 9,43% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan posisi Oktober 2024 sebesar US$ 44,21 miliar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ULN BUMN turun.
Baca Juga: Utang Luar Negeri BUMN Turun pada Oktober 2025 Jadi US$ 40,4 Miliar
Pertama, pembayaran pokok utang yang jatuh tempo dan/atau pelunasan dipercepat, terutama pada BUMN non-keuangan yang memang porsinya terbesar di total ULN BUMN.
Kedua, kondisi biaya pendanaan luar negeri yang relatif mahal dan ketidakpastian pasar keuangan mendorong banyak korporasi, termasuk BUMN, lebih selektif menarik pinjaman baru, lalu menggantinya dengan sumber dana dalam negeri, kas internal, atau pembiayaan kembali yang lebih aman dari sisi risiko nilai tukar.
Ketiga, dinamika proyek juga berperan dimana ketika belanja modal ditahan, proyek ditunda, atau pencairan pembiayaan proyek tidak seagresif rencana, kebutuhan penarikan utang luar negeri ikut berkurang.
Keempat, ada faktor penilaian yakni sebagian kewajiban bisa tercatat menurun dalam dolar AS karena perubahan nilai tukar mata uang asal utang terhadap dolar AS, meskipun pokok utangnya tidak berubah.
Baca Juga: Utang Luar Negeri BUMN Menanjak, Sentuh Rp 715,3 Triliun per April 2025
Selain itu, Josua menyebut, ULN yang turun bisa berarti BUMN sedang melakukan penguatan neraca antara lain mengurangi paparan risiko nilai tukar, menurunkan beban bunga, dan menata ulang jatuh tempo agar arus kas lebih longgar.
“Ini bahkan bisa dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, apalagi struktur ULN Indonesia secara agregat masih dinilai sehat dengan rasio ULN terhadap PDB sekitar 29,3% dan dominasi ULN jangka panjang sekitar 86,2% pada Oktober 2025,” tutur Josua kepada Kontan, Selasa (16/12/2025).
Meski demikian, Josua juga menilai, ULN yang turun juga dapat mencerminkan sikap menahan ekspansi jika prospek permintaan belum kuat atau ruang investasi belum jelas.
Josua melihat, tantangan kinerja BUMN sepanjang 2025 umumnya datang dari kombinasi tekanan biaya pendanaan dan risiko nilai tukar, volatilitas permintaan dan harga komoditas untuk BUMN berbasis sumber daya alam, serta risiko pelaksanaan proyek pada BUMN infrastruktur dan energi, seperti ketepatan waktu, pembengkakan biaya, dan kepastian pendapatan.
Di sisi lain, ia juga mengamati, BUMN juga menghadapi tantangan tata kelola dan efisiensi, termasuk kebutuhan menyeimbangkan mandat layanan publik dengan kesehatan keuangan.
Baca Juga: Utang Luar Negeri BUMN Naik , Capai Rp 715,3 Triliun per April 2025
Bila kompensasi atau penugasan tidak sepenuhnya sejalan dengan kemampuan arus kas, tekanan likuiditas mudah muncul meski utang luar negeri menurun.
“BUMN perbankan, tantangannya lebih pada kualitas aset, persaingan dana pihak ketiga, dan menjaga likuiditas valuta asing untuk kebutuhan perdagangan, sehingga kecenderungan menahan pinjaman luar negeri bisa menjadi langkah pengamanan neraca, bukan tanda melemah,” ungkapnya.
Secara rinci, ULN BUMN di sektor perbankan mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan.
ULN BUMN bank pada Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 5,44 miliar, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar US$ 5,45 miliar, dan lebih rendah dari Oktober 2024 yang mencapai US$ 7,15 miliar.
Di sisi lain, ULN BUMN dari sektor lembaga keuangan bukan bank (LKBB) relatif stabil. Pada Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 1,34 miliar, masih sama dengan posisi pada September 2025, dan juga pada Oktober 2024.
Terakhir, sektor perusahaan bukan lembaga keuangan tetap menjadi kontributor terbesar dalam total ULN BUMN, meskipun menunjukkan tren penurunan.
Pada Oktober 2025, ULN sektor ini mencapai US$ 33,62 miliar, menurun dari US$ 34,29 miliar di September 2025, dan turun dari Oktober 2025 yang mencapai US$ 35,72 miliar.
Selanjutnya: 5 Prompt ChatGPT Wrapped 2025 dengan Berbagai Topik dan Konsep
Menarik Dibaca: Teknologi Ligamen Buatan, Simak Solusi Cepat Pulih dari Cedera Olahraga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













