kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.779   -88,00   -0,49%
  • IDX 6.502   107,46   1,68%
  • KOMPAS100 842   17,11   2,07%
  • LQ45 639   11,27   1,80%
  • ISSI 229   4,24   1,89%
  • IDX30 356   5,32   1,52%
  • IDXHIDIV20 433   5,05   1,18%
  • IDX80 96   1,89   2,00%
  • IDXV30 121   1,43   1,20%
  • IDXQ30 113   1,57   1,41%

Transaksi Digital Tumbuh 28,69%, BI Tegaskan Tak Gantikan Uang Kartal


Kamis, 20 Agustus 2026 / 16:56 WIB
Transaksi Digital Tumbuh 28,69%, BI Tegaskan Tak Gantikan Uang Kartal
ILUSTRASI. QRIS sebagai standardisasi kode QR Nasional (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Transaksi pembayaran digital terus tumbuh pesat seiring dengan semakin luasnya digitalisasi sistem pembayaran. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menegaskan perkembangan transaksi digital tidak serta-merta menggantikan penggunaan uang rupiah secara fisik atau kartal.

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,5 miliar transaksi pada Juli 2026, atau tumbuh 28,69% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD). Pada periode yang sama, UYD tumbuh 15,10% yoy menjadi Rp1.314 triliun.

Artinya, meski penggunaan uang kartal masih mencatat pertumbuhan, laju perkembangan transaksi digital hampir dua kali lebih cepat. Pertumbuhan digitalisasi pembayaran juga semakin kuat ditopang oleh transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Baca Juga: Polemik Desil DTSEN, Ekonom Soroti Data Belum Mutakhir

Deputi Gubernur BI Ricky P Gozali mengatakan, perkembangan tersebut tidak berarti uang digital akan menggantikan uang rupiah dalam bentuk fisik. Menurutnya, uang digital dan rupiah kartal justru merupakan dua instrumen yang saling melengkapi.

“Digital dan kartal uang rupiah secara fisiknya atau secara perekonomian bukan merupakan pengganti tapi merupakan pelengkap,” ujar Ricky dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026). 

Ia menjelaskan, BI mendorong digitalisasi dan tetap menjaga penggunaan rupiah kartal secara bersamaan untuk memberikan opsi kepada masyarakat dalam melakukan transaksi. Tujuannya agar masyarakat dapat melakukan transaksi secara cepat, murah, dan aman serta pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dari perkembangan transaksi tersebut, Ricky mengakui bahwa penggunaan uang kartal tetap tumbuh, tetapi perkembangannya cenderung melandai di tengah digitalisasi yang semakin masif.

“Dari data memang kita lihat penggunaan rupiah secara fisik atau kartal di dalam perkembangannya tetap ada tapi mengalami kenaikan atau perkembangan yang melandai dengan adanya perkembangan dari digitalisasi yang semakin masif,” jelasnya.

BI juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup serta kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Ricky, di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital, pemahaman masyarakat mengenai rupiah tetap penting. Karena itu, BI terus melakukan edukasi melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Dengan memahami rupiah, masyarakat diharapkan tetap mengenal, merawat, dan menjaga rupiah meskipun pilihan pembayaran digital semakin beragam.

Ricky menegaskan, rupiah bukan sekadar alat pembayaran, tetapi juga merupakan simbol kedaulatan negara dan alat pembayaran yang sah di Indonesia. Dengan demikian, akselerasi digitalisasi pembayaran akan tetap berjalan berdampingan dengan keberadaan rupiah kartal.

Baca Juga: Bersiap! Desil 10 Tak Bisa Beli BBM Subsidi Lagi, Purbaya: Bisa Hemat Anggaran 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×