Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 dinilai semakin besar di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari 4,75% menjadi 5,00% pada RDG yang berlangsung besok.
“Menurut saya, peluang BI untuk menaikkan BI Rate pada RDG besok sudah meningkat cukup signifikan. Skenario dasar saya adalah BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari 4,75% menjadi 5,00%,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Defisit APBN Menyempit, Purbaya Yakin Target Fiskal Tetap Aman
Ia menilai langkah tersebut semakin mungkin diambil karena tekanan terhadap rupiah sudah melampaui pelemahan normal. Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp 17.733 per dolar Amerika Serikat (AS), diikuti lonjakan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun ke kisaran 6,86%.
Menurut Josua, tekanan eksternal juga semakin berat seiring tingginya harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan di sekitar 4,60%.
“Kondisi ini membuat tekanan terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin besar,” katanya.
Josua menjelaskan, kenaikan BI Rate terutama ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan meredam tekanan arus modal keluar. Selama ini, BI telah menggunakan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
Namun, menurut dia, pasar kini mulai mempertanyakan efektivitas stabilisasi yang hanya mengandalkan intervensi dan operasi moneter.
“Ketika tekanan rupiah terus berlanjut dan pasar mulai mempertanyakan daya tahan stabilisasi hanya melalui intervensi dan operasi moneter, kenaikan suku bunga menjadi sinyal yang lebih kuat bahwa BI memprioritaskan stabilitas,” jelasnya.
Meski demikian, Josua masih melihat kenaikan 50 basis poin belum menjadi skenario utama. Menurut dia, kenaikan agresif biasanya ditempuh bila tekanan rupiah bergerak tidak terkendali, misalnya mendekati Rp 18.000 per dolar AS secara cepat, diikuti arus modal keluar yang semakin besar dan lonjakan imbal hasil SBN.
“Langkah sebesar itu juga berisiko dibaca pasar sebagai tanda kepanikan, sehingga BI kemungkinan lebih memilih kenaikan 25 basis poin terlebih dahulu,” ujarnya.
Josua menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga diperparah sentimen domestik. Selain kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, pasar juga mencermati kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dinamika MSCI, hingga persepsi terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah.
“Artinya, BI tidak hanya merespons kurs, tetapi juga merespons risiko kepercayaan pasar,” katanya.
Baca Juga: INA Tunjuk Oki Ramadhana Jadi CEO, Dewan Pengawas Soroti Profesionalisme
Dari sisi manfaat, kenaikan BI Rate dinilai dapat memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal, meningkatkan minat investor terhadap SBN dan SRBI, serta mengurangi tekanan inflasi impor akibat pelemahan rupiah.
Namun, Josua mengingatkan kenaikan suku bunga juga membawa konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kenaikan BI Rate berpotensi menahan pemulihan kredit, meningkatkan biaya dana perbankan, serta menekan konsumsi dan investasi.
“Dampaknya bisa lebih terasa pada sektor yang sudah lemah seperti UMKM, properti, otomotif, dan industri yang bergantung pada pembiayaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan BI Rate belum tentu langsung menurunkan imbal hasil SBN. Menurut dia, pasar akan melihat apakah langkah BI cukup kredibel untuk menahan tekanan rupiah dan menjaga stabilitas fiskal.
Josua menyoroti lemahnya permintaan dalam lelang SBN pada 12 Mei 2026 lalu. Total penawaran yang masuk hanya Rp 51,4 triliun dengan rasio penawaran terhadap target sebesar 1,43 kali, terendah sejak awal 2025.
Baca Juga: Indonesia Punya Modal Kuat Jadi Acuan Baru Ekonomi Berbasis Kesejahteraan
“Karena itu, kenaikan BI Rate harus disertai komunikasi fiskal yang jelas agar pasar tidak hanya melihat kebijakan moneter bekerja sendirian,” imbuhnya.
Secara keseluruhan, Josua menilai kenaikan suku bunga terbatas menjadi langkah yang lebih kredibel dibanding hanya mengandalkan intervensi pasar ketika rupiah sudah menembus rekor terlemahnya.
Ia pun meminta pemerintah ikut membantu menjaga stabilitas melalui komunikasi fiskal yang disiplin, pengendalian subsidi energi, percepatan devisa hasil ekspor, serta kepastian kebijakan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













