CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Kenaikan Suku Bunga Berpotensi Menambah Beban Fiskal


Selasa, 19 Mei 2026 / 12:06 WIB
Kenaikan Suku Bunga Berpotensi Menambah Beban Fiskal
ILUSTRASI. Meskipun tekanan rupiah membayangi, Mirae Asset Sekuritas yakin BI tahan suku bunga. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada 19-20 Mei 2026 untuk menentukan arah suku bunga acuan. Mayoritas ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,0%.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut didorong oleh tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. 

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas memiliki pandangan berbeda. Perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75%.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai, kenaikan suku bunga untuk memperlebar yield differential tidak akan terlalu efektif di tengah derasnya arus modal keluar (capital outflow) dan masalah struktural yang membebani pasar keuangan domestik.

“Lebih krusial lagi, kenaikan 25bps akan menambah beban fiskal melalui kenaikan biaya debt servicing, di saat pemerintah menghadapi utang jatuh tempo hampir Rp 900 triliun tahun ini dan membutuhkan pembiayaan defisit yang besar,” ujar Rully dalam risetnya pada Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Kuat

Menurut Rully, kondisi politik saat ini juga menunjukkan pemerintah lebih memprioritaskan target pertumbuhan ekonomi 8% dibanding stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut dinilai mempersempit ruang bagi BI untuk melakukan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain itu, terdapat sejumlah faktor di luar kendali BI yang turut mendukung proyeksi penahanan suku bunga. Faktor-faktor tersebut antara lain kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability), permintaan valas musiman seperti repatriasi dividen dan kebutuhan haji yang diperkirakan mereda pada Juli-Agustus, hingga tekanan geopolitik akibat tingginya harga minyak dunia yang berpotensi menekan neraca transaksi berjalan Indonesia.

“Kami memperkirakan BI akan mengadopsi strategi "hawkish hold"—menyampaikan retorika tegas tentang kesiapan untuk bertindak sambil mengandalkan instrumen non-suku bunga: intervensi valas agresif, pengelolaan likuiditas lebih ketat melalui penerbitan SRBI lebih tinggi, dan pembelian selektif obligasi jangka panjang untuk membatasi kenaikan yield,” ucap Rully.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×