kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Tekanan Inflasi Akibat Kenaikan Harga BBM Masih Ada di Oktober 2022


Rabu, 05 Oktober 2022 / 19:42 WIB
Tekanan Inflasi Akibat Kenaikan Harga BBM Masih Ada di Oktober 2022
ILUSTRASI. Tekanan Inflasi Karena Kenaikan Harga BBM Masih Ada di Oktober 2022. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ke inflasi masih akan dirasakan pada Oktober 2022. Analis Makroekonomi Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menyebut, dampak yang dirasakan pada bulan ini merupakan dampak rambatan (second round impact). 

“Masih ada dampak dari peningkatan BBM di Oktober 2022. Namun, ini merupakan dampak dari second round impact. Meski harusnya, harga pangan sudah mulai melandai,” tegas Faiz kepada Kontan.co.id, Selasa (4/10). 

Menurut perhitungan Faiz, inflasi pada Oktober 2022 akan mencapai 6,2% secara tahunan (YoY) hingga 6,5% YoY, atau lebih tinggi dari inflasi pada September 2022 yang sebesar 5,95% YoY. Meski begitu, harapannya inflasi akan tertahan dengan mulai turunnya harga pangan. 

Baca Juga: Hati-Hati! Inflasi Tinggi Bisa Kerek Jumlah Orang Miskin

Nah, di tengah inflasi yang mendaki, Faiz yakin daya beli masyarakat masih akan terjaga dengan serangkaian bantuan yang diulurkan oleh pemerintah, terutama untuk masyarakat miskin. Namun, dengan catatan, selama bantuan yang diberikan tepat sasaran. 

Sedangkan untuk masyarakat menengah ke atas, Faiz percaya mereka masih memiliki daya beli yang cukup. Mengingat, tingkat tabungan yang masih sangat memadai. 

Meski begitu, Faiz tetap mengingatkan agar para otoritas berupaya sekuat tenaga dalam menurunkan inflasi dalam negeri untuk kembali ke kisaran sasaran 3% YoY plus minus 1% secepat mungkin. Apalagi, inflasi global sudah mulai perlahan menurun, meski masih tinggi. 

Baca Juga: Bahlil Sebut Ekonomi Global Gelap, Ingatkan Semua Pihak untuk Waspada

Saat inflasi global mulai melandai, tetapi inflasi Indonesia baru meningkat, maka dampaknya kurang baik terhadap harga aset domestik dan nilai tukar. Belum lagi, volatilitas nilai tukar juga bisa memberi dampak terhadap peningkatan imported inflation

Faiz pun memperkirakan, inflasi pada akhir tahun 2022 berada di level 6,5% YoY. Hal ini dengan mempertimbangkan kondisi pemulihan ekonomi di semester II-2022, juga produsen yang mulai akan memperlebar margin mereka. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×