Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Sementara itu, kenaikan CDS Indonesia tenor lima tahun mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di mata investor global. Data Pefindo menunjukkan CDS naik 4,96% secara mingguan dan melonjak 12,33% secara bulanan dibandingkan akhir 2025.
“Ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan ketidakpastian yang lebih tinggi terhadap profil kredit domestik,” kata Suhindarto.
Ke depan, Suhindarto menilai tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia secara fundamental berpotensi menekan yield SBN dalam jangka menengah.
Baca Juga: Pemerintah Akan Terbitkan 8 Seri SBN Ritel Pada 2026
Ia memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun melandai bertahap menuju 6,01% pada kuartal IV-2026.
Pandangan serupa disampaikan Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Menurutnya, pasar SBN Indonesia masih relatif stabil dan lebih tahan terhadap gejolak dibandingkan pasar saham.
Daya tarik SBN tetap kuat karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif, dengan selisih atau spread terhadap US Treasury tenor 10 tahun yang masih di atas 200 bps.
Secara keseluruhan, Myrdal menilai pasar SBN pada 2026 berpeluang lebih stabil dibandingkan pasar saham, di tengah ruang penurunan suku bunga global dan domestik yang kian terbatas.
Selanjutnya: Hai MSCI, Upaya Pembenahan di BEI Tak Menyentuh Persoalan Krusial nan Kontroversial
Menarik Dibaca: Ginjal Rusak Akibat Asam Urat? Begini Cara Mencegahnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













