kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Targetkan CAD 2,5% pada 2019, pemerintah masih melanjutkan kebijakan lama


Jumat, 08 Februari 2019 / 22:47 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kembali melebar hingga US$ 31,1 miliar atau 2,98% dari PDB, pemerintah cukup senang dengan kondisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang surplus pada triwulan IV-2018. Pemerintah pun masih akan melanjutkan kebijakan lama untuk terus menekan CAD sepanjang 2019.

"Setelah mengalami defisit pada triwulan sebelumnya, pada triwulan IV-2018 NPI justru positif US$ 5,4 miliar. Ini kabar baik," jelas Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir, Jumat (8/2).

Namun, pemerintah tidak bisa tutup mata bahwa masih ada pekerjaan yang belum selesai untuk menekan laju CAD. Dengan target 2,5% dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini, pemerintah akan melanjutkan kebijakan sebelumnya.

Antara lain mendorong ekspor dan pariwisata, mendorong industri dari hulu ke hilir, dan kebijakan B20 untuk mengendalikan impor bahan bakar minyak (BBM), serta memperbaiki online single submission (OSS) dan perbaikan iklim investasi.

Sekedar informasi, CAD kembali melebar disebabkan dua hal, yakni defisit neraca migas yang terus melebar dan laju impor non-migas yang terlampau kencang.

Tercatat neraca migas defisit US$ 11,6 miliar. Kemudian impor non-migas tercatat US$ 151,9 miliar, lebih tinggi ketimbang impor migas yang tercatat US$ 29,2 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×