Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 5,25% diperkirakan mulai menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II dan III-2026.
Di tengah langkah BI menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, pemerintah diminta segera memperkuat daya beli masyarakat serta mendorong belanja produktif agar perlambatan ekonomi tidak semakin dalam.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai kenaikan BI rate sebesar 50 basis poin (bps) memang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi.
Namun, kebijakan suku bunga tinggi juga berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, investasi, penyaluran kredit, hingga pasar saham.
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,25%, Ekspansi Kredit Perbankan Diperkirakan Tertahan
Menurut hitungannya, kenaikan bunga acuan 50 bps dapat memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,4 hingga 0,7 poin persentase dari proyeksi awal.
Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 diperkirakan berada di kisaran 5,5%-5,7%, maka setelah kenaikan suku bunga pertumbuhan yang lebih realistis diproyeksikan turun ke level 5,1%-5,2%.
Sementara pada kuartal III-2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 4,9%-5,1%.
Karena itu, Syafruddin meminta pemerintah segera menyiapkan langkah mitigasi agar tekanan terhadap ekonomi domestik tidak semakin besar.
"Pemerintah harus segera menahan dampak lanjutannya melalui belanja produktif, perlindungan daya beli, dan percepatan investasi," ujar Syafruddin, Kamis (21/5/2026).
Senada, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menilai sektor properti, otomotif, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang paling rentan terkena dampak kenaikan suku bunga.
Pasalnya, sektor-sektor tersebut sangat sensitif terhadap kenaikan bunga kredit dan pelemahan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat
Rizal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih bisa bertahan di kisaran 5,1%-5,3%. Namun pada kuartal III-2026, pertumbuhan berisiko turun ke level 4,9%-5,1% apabila konsumsi rumah tangga dan penyaluran kredit terus melemah.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia atau BCA, David Sumual memperkirakan BI masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan hingga 50 bps lagi sampai akhir 2026.
Menurut dia, risiko tersebut dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang menjaga harga energi tetap tinggi, inflasi global yang mempengaruhi selisih imbal hasil dengan suku bunga domestik, serta dampak El Nino dan pelemahan rupiah terhadap inflasi dalam negeri.
Di sisi lain, David menilai langkah pemerintah memangkas anggaran program makan bergizi gratis (MBG) dan efisiensi belanja kementerian/lembaga justru membantu memperkuat ketahanan fiskal.
Baca Juga: BI Rate Naik Tinggi, Bank Indonesia Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik
"Usaha pemerintah memangkas anggaran MBG dan K/L sebenarnya positif bagi ketahanan fiskal sehingga akhirnya juga bisa menopang nilai tukar," ujar David.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













