kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.508   8,00   0,05%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Stok beras Bulog terlalu riskan


Senin, 04 Oktober 2010 / 20:24 WIB


Reporter: Hans Henricus | Editor: Hasbi Maulana

JAKARTA. Menteri Pertanian Suswono menilai cadangan beras Bulog saat ini tidak memadai. Oleh karena itu pemerintah membuka peluang mengimpor beras.

Menurut Suswono, hingga saat ini cadangan beras Bulog baru mencapai 1,8 juta ton. Padahal, stok ideal beras Bulog saat ini sudah lebih dari 3 juta ton. Kapasitas gudang Bulog sendiri mencapai 3,8 juta ton. "Terlalu riskan kita dengan stok beras Bulog yang masih kecil ini," ujar Suswono, usai sidang kabinet di kantor Presiden, Senin (4/10).

Dia menjelaskan, saat ini pemerintah sudah memiliki jatah impor beras dari Vietnam dan Thailand. Namun, sebelum mengambil keputusan impor, pemerintah meminta Bulog menyerap beras di dalam negeri secara optimal. Kalau Bulog tak bisa lagi menyerap besar dalam negeri secara optimal, baru keputusan impor akan diambil. "Daripada gambling lebih baik mengamankan pangan menjadi lebih utama," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera itu. Apalagi, kondisi musim yang tidak menentu seperti sekarang juga mempengaruhi musim tanam petani.

Suswono mengkritik Bulog yang tidak memaksimalkan pembelian beras dari dalam negeri pada Maret dan April 2010. Padahal saat itu merupakan masa-masa masa panen raya. Menurut Suswono, waktu itu Bulog beralasan kualitas beras tidak bagus meskipun harganya sesuai harga pembelian pemerintah (HPP). "Kini momentum itu hilang. Sekarang harga terus di atas HPP," ujar terang Suswono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×