Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah didorong untuk menyiapkan stimulus ekonomi baru yang lebih terarah guna menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global yang kian kompleks.
Pendekatan kebijakan dinilai perlu disesuaikan dengan karakter tekanan saat ini yang bersifat bertahap dan berkepanjangan, berbeda dengan kondisi krisis saat pandemi Covid-19.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai pemerintah perlu mengkaji ulang pemberian stimulus baru guna menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Tekanan harga komoditas energi serta fragmentasi geopolitik dinilai berpotensi menekan kinerja ekonomi domestik dalam jangka menengah.
Baca Juga: Menuju Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Pemerintah Dorong Manfaatkan Diskon Tol
Menurut Yusuf, dampak tekanan global tersebut mulai terasa di dalam negeri, khususnya pada sektor dunia usaha. Kenaikan biaya produksi yang diikuti dengan tekanan margin berpotensi menahan ekspansi bisnis serta memperlambat penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, daya beli masyarakat—terutama kelas menengah—dinilai belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat dorongan konsumsi domestik masih terbatas, padahal konsumsi rumah tangga merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Dalam konteks ini, menurut saya stimulus pemerintah tetap diperlukan, tetapi pendekatannya tidak bisa disamakan persis dengan masa pandemi,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).
Yusuf menjelaskan, perbedaan karakter tekanan ekonomi saat ini dibandingkan masa pandemi menjadi faktor utama dalam perumusan kebijakan.
Jika pada masa Covid-19 terjadi shock yang bersifat mendadak (sudden stop) sehingga membutuhkan stimulus besar dan luas, maka saat ini tekanan muncul secara bertahap dan cenderung berkepanjangan.
“Sekarang situasinya berbeda, shock-nya lebih bersifat berlapis dan berkepanjangan, bukan collapse mendadak, sehingga stimulus perlu lebih terarah dan selektif,” tegasnya.
Baca Juga: Rencana Kebijakan WFH Sehari Seminggu Bisa Hemat BBM Rp 9,7 Triliun Setahun
Lebih lanjut, ia mengidentifikasi empat fokus utama yang perlu diperhatikan pemerintah dalam merancang stimulus ekonomi yang efektif.
Pertama, dari sisi rumah tangga, penguatan daya beli tetap menjadi prioritas, namun harus dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Bantuan sosial masih relevan bagi kelompok rentan, sementara untuk kelas menengah diperlukan pendekatan semi-targeted, seperti insentif pengurangan biaya listrik, transportasi, atau insentif pajak terbatas.
“Kelas menengah penting, karena kalau melemah, efek multiplier ke konsumsi akan jauh lebih besar,” katanya.
Kedua, dari sisi dunia usaha, kebijakan tidak cukup hanya berupa insentif, tetapi juga harus menjaga likuiditas dan keberlanjutan usaha. Skema penjaminan kredit, restrukturisasi terbatas, serta insentif fiskal untuk sektor padat karya dinilai krusial dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Ketiga, stimulus perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memiliki efek pengganda tinggi. Pemerintah diharapkan memprioritaskan belanja negara pada pembangunan infrastruktur dasar, ketahanan energi, serta hilirisasi industri guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Baca Juga: Tax Ratio 13% pada 2026 Dinilai Sulit Tercapai, Ini Alasannya
Keempat, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci penting. Dengan ruang pelonggaran moneter yang terbatas akibat tekanan inflasi dan nilai tukar, peran kebijakan fiskal dinilai harus lebih dominan dalam menopang permintaan domestik.
“Desain stimulus harus efisien, tidak terlalu membebani defisit, tapi tetap cukup kuat menopang permintaan,” imbuhnya.
Yusuf menegaskan, pengalaman pemberian stimulus pada masa pandemi tetap relevan sebagai pembelajaran, namun tidak dapat diterapkan secara langsung pada kondisi saat ini yang memiliki karakter tekanan berbeda.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah stimulus yang lebih presisi, lebih terukur, dan lebih fokus pada menjaga keseimbangan antara stabilitas jangka pendek dan pertumbuhan jangka menengah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













