Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17–18 Juni 2026, menyusul meredanya tekanan global dan mulai stabilnya pasar keuangan. Namun, peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada paruh kedua tahun ini masih belum tertutup.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026. Meski demikian, ruang untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dinilai masih terbuka pada kuartal III-2026.
Menurut Faisal, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps sebelumnya telah mendapat respons positif dari pasar.
Baca Juga: Fase Pemulangan Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Haji Indonesia Telah Diterbangkan
Di sisi lain, kondisi global juga mulai membaik seiring tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong penurunan harga minyak dunia.
"Setelah kejutan kenaikan 25 bps, kami memproyeksikan BI akan menahan suku bunga (5,50%) di RDG 17-18 Juni 2026. Namun kami masih melihat adanya ruang kenaikan 25 bps lanjutan di kuartal III 2026," ujar Faisal kepada Kontan, Selasa (16/6).
Faisal menjelaskan, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran telah memicu kembali sentimen risk on di pasar keuangan global karena risiko inflasi dunia ikut menurun.
"Dan bagi Indonesia, tekanan risiko twin deficit juga berkurang. Hasilnya sudah terdapat indikasi pembalikan capital flow, dan rupiah juga berada dalam tren menguat," jelasnya.
Meski demikian, Faisal menilai tantangan bagi kebijakan moneter belum sepenuhnya hilang. Pada kuartal III 2026, ia masih melihat peluang BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps.
Menurutnya, inflasi masih berada dalam tren meningkat, akibat efek inflation pass through atau kenaikan biaya dari sisi produsen ke konsumen seiring pelemahan rupiah yang meningkatkan imported inflation, terutama dari impor barang input.
Selain itu, risiko defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) juga dinilai meningkat di tengah perlambatan ekonomi global yang berpotensi menekan ekspor, sementara aktivitas impor justru diperkirakan meningkat sejalan dengan kebijakan pemerintah yang propertumbuhan.
Di sisi eksternal, Faisal menilai pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan sikap hawkish di tengah masih kuatnya pasar tenaga kerja AS serta ketidakpastian terkait perang dagang dan kebijakan tarif.
Baca Juga: Haru! Jemaah Haji Indonesia Mulai Dipulangkan dari Madinah ke Tanah Air
Meskipun risiko inflasi energi mulai mereda setelah kesepakatan damai AS-Iran yang menekan harga minyak global, pasar masih melihat The Fed berpotensi kembali menaikkan Federal Funds Rate (FFR) pada 2027.
"Untuk itu pada kuartal III 2026 kami melihat ada ruang untuk menaikkan BI Rate 25 bps kembali," pungkas Faisal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













