kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Rencana Kebijakan WFH Sehari Seminggu Bisa Hemat BBM Rp 9,7 Triliun Setahun


Kamis, 26 Maret 2026 / 18:04 WIB
Rencana Kebijakan WFH Sehari Seminggu Bisa Hemat BBM Rp 9,7 Triliun Setahun
ILUSTRASI. Kendaraan roda empat mengisi BBM di SPBU (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana kebijakan work from home (WFH) sehari dalam seminggu dinilai bisa menekan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita menghitung, kebijakan tersebut akan dapat menghemat anggaran hingga Rp 9,67 triliun dalam setahun.

Berdasarkan hasil analisisnya, Ronny menjelaskan, rata-rata konsumsi atau kebutuhan harian BBM Nasional pada tahun 2025 mencapai 232.417 kilo liter (kl).

Baca Juga: Tax Ratio 13% pada 2026 Dinilai Sulit Tercapai, Ini Alasannya

Sementara itu, pemerintah menargetkan penghematan BBM 20% dari kebijakan WFH tersebut. Dengan begitu, jika WFH dilakukan sehari seminggu maka BBM yang bisa dihemat bisa mencapai 46.483,4 kilo liter sehari.

Atas dasar asumsi tersebut, Ronny menilai, bila dalam setahun terdapat 52 minggu maka kebijakan WFH sehari seminggu bisa menghemat BBM 2.417.136,8 kilo liter.

Lalu asumsi penghematan fiskal didasarkan pada selisih antara harga pasar minyak (US$ 100/barel) dengan harga subsidi (pertalite/biosolar) sebesar Rp 4.000 per liter maka penghematan mencapai Rp 9,67 triliun.

"Penghematan sebesar hampir Rp 10 triliun ini merupakan angka yang sangat krusial bagi pemerintah tahun 2026," jelasnya dalam analisis ISEAI dilansir Kontan, Kamis (26/3/2026).

Meski demikian, Ronny mengungkapkan, kebijakan satu hari WFH bisa menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi sektor jasa dan perdagangan ritel.

Menurutnya, sektor transportasi adalah yang paling terpukul, operator transportasi publik seperti MRT Jakarta sangat bergantung pada jumlah penumpang harian (ridership) yang tinggi pada hari kerja.

"Jika WFH satu hari diberlakukan, maka pada hari tersebut operator transportasi akan kehilangan potensi pendapatan yang signifikan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan beban subsidi operasional dari pemerintah daerah (PSO)," terangnya.

Baca Juga: Arus Balik Belum Usai, Puncak Kedua Diprediksi Terjadi Akhir Pekan Ini

Lebih lanjut, Ronny menambahkan, bagi sektor informal seperti ojek online, di mana pengurangan satu hari kerja berarti kehilangan 20% potensi pendapatan mingguan dari segmen pelanggan komuter.

"Meskipun ada potensi peningkatan di sektor pengiriman makanan (food delivery), margin keuntungan dari layanan ini seringkali lebih kecil bagi pengemudi dibandingkan layanan pengangkutan orang," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×