kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Simak tips BPS mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan perang dagang


Kamis, 15 Agustus 2019 / 15:27 WIB
Simak tips BPS mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan perang dagang
ILUSTRASI. Devisa Hasil Ekspor


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa upaya meningkatkan jumlah ekspor tahun ini tidaklah mudah pasalnya tantangan dari luar masih cukup tinggi. Khususnya dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, tantangan ekspor memang luar biasa berat. "Bagaimana kita mau menaikkan ekspor kalau pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor juga melambat? Itu masalahnya," kata Kepala BPS Suhariyanto pada Kamis (15/8) di Jakarta.

Baca Juga: Utang luar negeri RI naik 10,1% menjadi US$ 391,8 miliar, ini rinciannya

Oleh karena itu, kunci ke depannya untuk pertumbuhan, Indonesia harus menggerakkan konsumsi domestik, yaitu konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Apalagi konsumsi pemerintah dinilai memiliki prospek yang baik.

Lalu pemerintah juga diimbau untuk menjaga konsumsi rumah tangga supaya share-nya cukup besar ke pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu kunci untuk menjaga konsumsi rumah tangga adalah bagaimana usaha pemerintah dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga.

"Ini juga terkait dengan inflasi. Intinya inflasi harus rendah. Kalau inflasi rendah, berarti daya beli naik dan konsumsi rumah tangganya juga naik," tambah Suhariyanto.

Oleh karena itu, untuk menjaga konsumsi tersebut perlu diadakannya industrialisasi atau hilirisasi. Bila turunan dari industrinya banyak, barang-barang mentah yang tadinya diekspor bisa diolah untuk dalam negeri.

Baca Juga: Ini 3 tips dari Morgan Stanley mengatasi perlambatan ekonomi Indonesia

Selain produknya banyak, diharapkan juga bisa menciptakan lapangan kerja sehingga bisa menghasilkan konsumsi rumah tangga.

Selain itu, Suhariyanto juga menyinggung masalah investasi. Menurutnya, supaya investasi itu naik, Pemerintah perlu menarik investasi di sektor riil yang dinilainya merupakan sektor yang paling menggerakkan.

Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan insentif untuk industri yang berorientasi pada ekspor.

"Saya pikir saat ini Bapenas sudah melakukan hal itu. Bahkan sudah mulai mempertajam pemberian insentif. Terutama untuk industri yang berorientasi ekspor yang bisa membuka lapangan kerja dan bisa meningkatkan nilai tambah," kata Suhariyanto.

Baca Juga: Kejar pertumbuhan lebih tinggi dan merata, Indonesia butuh transformasi ekonomi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×