Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli
Namun berdasarkan penelusuran pada Laporan Semester I APBN 2019, pemerintah menyebut telah menjajaki potensi pinjaman tunai yang dapat dioptimalkan untuk pembiayaan 2019 dengan kisaran US$ 1 miliar - US$ 2 miliar.
Kemenkeu dalam laporan itu menyatakan, pinjaman tersebut akan siap untuk ditarik pada kuartal IV tahun 2019, sehingga menjadi buffer untuk pembiayaan.
Baca Juga: Baru diluncurkan BI, SMF bersiap terbitkan surat berharga komersil Rp 200 miliar
“Kami belum bisa bilang apa-apa dulu, ini kan opsi saja. Tapi pinjaman itu butuh proses yang perlu kita siapkan, sedangkan untuk issue SBN bisa lebih cepat dan mudah,” terang Luky.
Di sisi lain, Luky bilang, pemerintah masih akan merealisasi penerbitan SBN sesuai rencana. Sampai Agustus lalu, realisasi penerbitan SBN telah mencapai Rp 290,74 triliun atau 74,7% dari target dalam APBN 2019.
“Artinya masih ada space (penerbitan SBN) untuk mengantisipasi risiko dalam 2,5 bulan ke depan,” kata Luky.
Berdasarkan outlook, penerbitan SBN neto tahun ini sebesar Rp 381,83 triliun atau lebih rendah dari target yaitu Rp 388,96 triliun.
Sementara, outlook pinjaman tunai luar negeri diproyeksi naik menjadi Rp 44,16 triliun dari target sebelumnya Rp 30 triliun sejalan dengan tujuan menjadi buffer pembiayaan APBN 2019.
Baca Juga: Analis: Tahun depan penerbitan obligasi akan lebih baik dibanding dua tahun lalu
Kemenkeu menyatakan, hal itu juga sejalan dengan mekanisme fleksibilitas pembiayaan tunai, di mana pemerintah dapat mengurangi target penerbitan SBN dan meningkatkan penarikan pinjaman tunai atau sebaliknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













