Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Bertambah lagi sentimen negatif ke dunia investasi dan bisnis Indonesia. Setelah MSCI mengancam penurunan kelas pasar Indonesia dari emerging market ke frontier market, kini daya saing global Indonesia kembali turun.
Posisi Indonesia dalam peringkat daya saing global kembali melemah. Berdasarkan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia menempati peringkat ke-58 dari 70 negara dan ekonomi yang dinilai.
Posisi tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-40. Jika dibandingkan dengan 2024, penurunan bahkan mencapai 31 peringkat, dari posisi ke-27 menjadi ke-58.
Data tersebut berasal dari IMD World Competitiveness Yearbook 2026 yang dipublikasikan pada Juni 2026 oleh IMD World Competitiveness Center, Swiss.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Singapura kembali menempati posisi pertama, disusul Hong Kong, Swiss, Taiwan, dan Uni Emirat Arab.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang menempati peringkat ke-15, Vietnam di posisi ke-27, serta Thailand di peringkat ke-45.
Baca Juga: Kemenkeu Sudah Tarik Dana SAL Rp 300 Triliun dari Himbara Secara Bertahap
Efisiensi Bisnis dan Infrastruktur Jadi Titik Lemah
Laporan IMD menunjukkan penurunan daya saing Indonesia terutama dipengaruhi melemahnya efisiensi bisnis serta kualitas infrastruktur.
Pada faktor Business Efficiency, Indonesia berada di peringkat ke-38 dunia, turun dari posisi ke-23 pada 2024.
Sementara itu, faktor Infrastructure turun menjadi peringkat ke-58 dari sebelumnya peringkat ke-52.
Kinerja pemerintah juga mengalami penurunan cukup tajam. Faktor Government Efficiency merosot dari peringkat ke-14 pada 2024 menjadi posisi ke-50 pada 2026.
Di sisi lain, faktor Economic Performance relatif stabil di peringkat ke-24 dunia.
Tonton: Kabar Gembira Driver Ojol Mulai 1 Juli, Potongan Aplikasi Grab dan Gojek Turun Jadi 8 Persen
Sejumlah Indikator Masih Berada di Kelompok Bawah
Pada tingkat yang lebih rinci, beberapa indikator Indonesia masih berada di kelompok bawah dari 70 negara yang dinilai.
Rinciannya meliputi:
- Produktivitas dan efisiensi: peringkat 53.
- Keuangan: peringkat 51.
- Praktik manajemen: peringkat 55.
- Sikap dan nilai kerja: peringkat 53.
- Pendidikan: peringkat 63.
Selain itu, kualitas infrastruktur ilmiah dan teknologi juga masih menjadi tantangan.
- Infrastruktur ilmiah berada di peringkat 48.
- Infrastruktur teknologi berada di peringkat 47.
Tonton: Terus Merugi, Prabowo Tutup 240 BUMN
Indonesia Masih Memiliki Sejumlah Keunggulan
Meski mengalami penurunan peringkat secara keseluruhan, Indonesia masih memiliki beberapa indikator yang tergolong kompetitif.
Beberapa di antaranya adalah:
- Prices (harga): peringkat 10 dunia.
- Perpajakan: peringkat 12.
- Pasar tenaga kerja: peringkat 21.
- Ekonomi domestik: peringkat 24.
Tantangan Daya Saing Indonesia pada 2026
Dalam profil Indonesia, IMD mengidentifikasi sejumlah tantangan utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
- Ancaman konfrontasi ekonomi global terhadap keamanan energi nasional.
- Pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan.
- Penyesuaian alokasi anggaran pemerintah.
- Keterbatasan infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia.
- Terbatasnya sumber pembiayaan.
Tonton: UU P2SK Beri Karpet Merah bagi Orang Kaya dan Pengemplang Pajak?
IMD: Daya Saing Kini Ditentukan Kredibilitas Institusi
Direktur IMD World Competitiveness Center, Arturo Bris, menilai daya saing ekonomi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh biaya produksi, ukuran pasar, maupun inovasi.
"Daya saing ekonomi pada 2026 tidak lagi terutama merupakan kontes biaya, skala ekonomi, atau bahkan inovasi. Daya saing kini menjadi kontes mengenai kredibilitas institusi," kata Bris dalam pengantar laporan IMD World Competitiveness Yearbook 2026.
Menurutnya, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kepastian hukum, komitmen pemerintah yang dapat ditegakkan, serta kapasitas institusi negara menjadi faktor utama yang menentukan daya saing.
Bris menambahkan, sebuah negara tidak menjadi kompetitif karena memiliki lebih banyak regulasi, melainkan ketika pelaku ekonomi percaya bahwa kontrak ditegakkan, keputusan publik dapat ditinjau ulang, korupsi dibatasi, dan kewenangan administratif dijalankan secara transparan.
Metodologi IMD World Competitiveness Ranking 2026
IMD World Competitiveness Ranking 2026 mengukur daya saing 70 negara dan ekonomi menggunakan 341 indikator.
Penilaian dibagi ke dalam empat faktor utama, yaitu:
- Economic Performance.
- Government Efficiency.
- Business Efficiency.
- Infrastructure.
Keempat faktor tersebut dipecah lagi menjadi 20 subfaktor dengan bobot masing-masing sebesar 5% terhadap skor akhir.
Sebanyak dua pertiga penilaian berasal dari data statistik (hard data) yang dikumpulkan dari berbagai sumber internasional, nasional, dan regional.
Sementara sepertiga lainnya berasal dari Executive Opinion Survey yang mengukur persepsi pelaku usaha terhadap daya saing masing-masing negara.
Pada 2026, IMD menerima lebih dari 6.900 respons survei dari 70 negara dan ekonomi.
Untuk Indonesia, pengumpulan data dilakukan bersama Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia serta NuPMK Consulting.
Secara keseluruhan, laporan IMD menunjukkan bahwa tantangan utama Indonesia bukan lagi terletak pada stabilitas ekonomi makro. Perbaikan kualitas institusi, efisiensi bisnis, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam jangka panjang.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/06/24/155059426/daya-saing-indonesia-merosot-ke-peringkat-58-dunia-infrastruktur-dan-efisiensi?page=all#page2
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














