kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.776   42,00   0,25%
  • IDX 8.232   -88,35   -1,06%
  • KOMPAS100 1.139   -9,43   -0,82%
  • LQ45 813   0,48   0,06%
  • ISSI 296   -9,48   -3,11%
  • IDX30 422   3,70   0,88%
  • IDXHIDIV20 501   7,26   1,47%
  • IDX80 126   -0,89   -0,70%
  • IDXV30 136   -1,76   -1,27%
  • IDXQ30 136   1,46   1,09%

Sentimen MSCI Bayangi Arus Modal Asing ke Indonesia pada 2026, Rupiah Bisa Terdampak


Kamis, 29 Januari 2026 / 19:42 WIB
Sentimen MSCI Bayangi Arus Modal Asing ke Indonesia pada 2026, Rupiah Bisa Terdampak
ILUSTRASI. Rupiah berisiko tertekan hingga akhir kuartal I 2026 jika tekanan jual asing berlanjut. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai prospek arus modal asing ke Indonesia pada 2026 masih akan bergerak dinamis pasca evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dalam jangka pendek, sentimen pasar cenderung membuat investor asing lebih berhati-hati, khususnya di pasar saham dan obligasi, hingga ada kejelasan langkah perbaikan dari otoritas serta hasil peninjauan ulang MSCI yang dijadwalkan hingga Mei 2026.

Josua memperingatkan, jika perbaikan yang diharapkan tidak memadai, Indonesia berisiko mengalami penurunan porsi di indeks pasar berkembang, bahkan berpotensi turun kelas ke pasar perintis atau frontier market. Kondisi tersebut dapat menahan aliran dana masuk dari investor yang mengikuti indeks, sekaligus meningkatkan risiko arus keluar.

Baca Juga: MSCI Picu Dana Asing Keluar, Rupiah Dinilai Tetap Terkendali

“Dalam skenario ekstrem, Goldman memperkirakan potensi arus keluar gabungan bisa melampaui US$ 13 miliar apabila terjadi penurunan kelas. Beban sentimen ini berpotensi menekan kinerja pasar dalam beberapa waktu,” ujar Josua, Kamis (29/1/2026).

Di pasar obligasi, Josua menilai ketahanannya relatif lebih baik karena ditopang basis investor domestik yang besar. Namun demikian, pasar obligasi tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan. Jika pelemahan di pasar saham memicu suasana risk-off, sebagian investor asing berpeluang mengurangi kepemilikan obligasi atau meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Meski begitu, data menunjukkan arus dana asing ke pasar obligasi masih berpeluang terjadi selama imbal hasil tetap menarik dan nilai tukar relatif terjaga. Ia mencontohkan, pada 26 Januari lalu tercatat pembelian bersih obligasi oleh investor global dengan imbal hasil surat utang tenor 10 tahun yang relatif stabil.

Sementara itu, dampak evaluasi MSCI terhadap investasi asing langsung (FDI) dinilai tidak secepat dan sedrastis pasar saham. Keputusan FDI, menurut Josua, lebih banyak ditentukan oleh prospek permintaan, biaya produksi, kepastian perizinan, serta konsistensi kebijakan.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi, Danantara Tetap Agresif Investasi di Pasar Saham

Namun demikian, ia mengingatkan adanya pengaruh tidak langsung. Isu seputar keterbukaan kepemilikan, kualitas tata kelola, dan kepastian regulasi berpotensi membuat sebagian calon investor menunda keputusan investasi hingga risiko kebijakan dinilai menurun. Kekhawatiran ini dapat membesar jika dibarengi isu lain, seperti meningkatnya risiko regulasi terkait wacana pengelolaan perusahaan yang izinnya dicabut oleh Danantara.

“Bagi investor strategis, kepastian aturan main, perlindungan hukum, dan keterbukaan informasi menjadi kunci. Dampaknya lebih berupa penundaan dan pengetatan syarat investasi, bukan pembatalan massal,” jelasnya.

Adapun pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek sangat bergantung pada arus modal portofolio dan kondisi global. Josua mencatat, meski pada hari yang sama ketika pasar saham tertekan rupiah sempat menguat hingga level Rp 16.706 per dolar AS akibat pelemahan dolar global, hasil evaluasi MSCI tetap menambah risiko terhadap mata uang domestik.

Jika tekanan jual asing di pasar saham berlanjut dan kekhawatiran penurunan kelas membesar, rupiah berpeluang kembali tertekan akibat meningkatnya permintaan dolar. 

"Risiko ini dapat meningkat apabila disertai kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan arah suku bunga domestik. Bahkan, dalam skenario tekanan yang berlanjut, rupiah diperkirakan bisa melemah hingga akhir kuartal I," ungkap Josua.

Sebaliknya, jika respons otoritas yang cepat dan meyakinkan, ditopang kondisi global yang kondusif seperti pelemahan dolar serta berlanjutnya arus dana ke obligasi, Josua menyebut hal tersebut dapat menjaga stabilitas rupiah dan membuka ruang penguatan. 

Meski demikian, Josua memperkirakan pergerakan rupiah masih akan bergejolak hingga terdapat kejelasan konkret menjelang peninjauan MSCI berikutnya.

Selanjutnya: IHSG Anjlok Hari Ini (29/1), Net Sell Asing Rp 4,44 Triliun, Saham Ini Malah Cuan

Menarik Dibaca: 7 Tips Membuat Smoothie yang Aman untuk Gula Darah, Coba yuk!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×