kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

Sandiaga Uno sebut harga makanan di Indonesia lebih mahal dua kali lipat dari India


Selasa, 02 Oktober 2018 / 22:30 WIB
ILUSTRASI. Sandiaga Uno


Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Cawapres Sandiaga Uno akan melakukan reformasi struktural ekonomi untuk memberikan lapangan pekerjaan dan membuat harga bahan pokok terjangkau begitu nanti terpilih menjadi Wapres. 

Untuk menumbuhkan lapangan pekerjaan, Sandiaga Uno akan mempermudah perizinan, insentif, dan UU yang mendorong industrilisasi. "Sekarang kan seperti deindustrilisasi," ujar dia saat berkunjung ke Redaksi KONTAN, Selasa (2/10).

Dia menjelaskan, untuk melakukan industrilisasi maka akan ada kebijakan yang tidak popular yang diambil. "Saya sudah bicara dengan Pak Prabowo, memang yang nanti kita lakukan rasanya di depan," imbuhnya.

Terkait dengan infrastruktur, kata Sandi, pihaknya akan meneruskan proyek infrastruktur dengan catatan harus langsung berdampak ke pembukaan lapangan pekerjaan. "Saya akan dorong PPP, pengalaman saya bangun Cipali tidak ada dana sepeserpun dari pemerintah, waktu itu sekitar Rp 14 triliun, sekarang dimiliki pemerintah dan dioperatori swasta," ungkap Sandiaga.

Selain soal lapangan pekerjaan, Sandiaga juga mengatakan, pihaknya melihat sejauh ini impor pangan yang dilakukan oleh pemerintah malah tidak membuat harga terjangkau. Bahkan, data dari World Bank terbaru menuliskan harga makanan di Indonesia itu lebih mahal dari India. "Dua kali lipat harganya lebih mahal dari India," ungkanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×