kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Tekanan APBN 2026 Berpotensi Membengkak


Jumat, 24 April 2026 / 05:34 WIB
Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Tekanan APBN 2026 Berpotensi Membengkak
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level terburuk sepanjang sejarah berpotensi memperbesar tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Risiko ini muncul seiring depresiasi rupiah yang menjauh dari asumsi dasar pemerintah, di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi harga minyak.

Pada Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,61% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.181 per dolar AS.

Sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS, posisi ini menjadi titik terlemah rupiah sepanjang masa, meski akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut.

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Tekanan Global dan Domestik Masih Membayangi

Pelemahan ini kian mengkhawatirkan karena berada jauh di atas asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Berdasarkan sensitivitas makro dalam Rancangan APBN 2026, setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp 800 miliar. Artinya, tekanan terhadap fiskal bisa semakin besar jika tren depresiasi berlanjut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal.

“Kami pantau saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Penyebabnya kami lihat gejolak global,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan merespons secara reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar. Stabilitas rupiah, menurutnya, menjadi domain otoritas moneter.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rekor Terburuk! Proyeksi ke Rp 17.200 Per Dolar AS Segera Terbukti?

Dari sisi bank sentral, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik.

Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan tren mata uang regional, dengan depresiasi sekitar 3,54% secara tahun berjalan.

Untuk meredam tekanan, BI meningkatkan intervensi di berbagai lini, baik di pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic NDF (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Kiwoom: Tekanan Bukan Sekadar Faktor Global

BI memastikan akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang konsisten serta terukur guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global yang masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×