Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollae Amerika Serikat (AS) terus merosot dan menyentuh level terendah pada Jumat (17/4/2026). Di saat yang sama, bursa saham negara berkembang di Asia justru menunjukkan tren positif.
Investor mulai optimistis terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek, sehingga mendorong penguatan pasar saham di kawasan.
Indeks MSCI untuk saham negara berkembang di Asia memang sempat turun 0,9% dari level sebelum perang. Namun, indeks tersebut diperkirakan tetap mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 3,5%.
Secara keseluruhan, kinerja pasar saham pada April pun berbalik positif dengan kenaikan 15,4 persen, setelah sebelumnya anjlok hingga 14 persen pada Maret.
Di tengah sentimen positif tersebut, rupiah justru bergerak sebaliknya. Mata uang Indonesia ini sempat menyentuh level Rp 17.192 per dolar AS, memperpanjang pelemahannya sepanjang 2026 menjadi sekitar 3%.
Adapun, tekanan terhadap rupiah terutama terjadi sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari. Lantas, benarkah rupiah kini mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah?
Baca Juga: TNI AL: Kapal Perang AS Melintas di Selat Malaka, Bukan Operasi Khusus
Penyebab rupiah merosot ke level terendah
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, membenarkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tengah merosot dan mencapai level terendah pada Jumat. Ia menyebut, pelemahan yang terjadi pada pertengahan April 2026 ini bahkan telah menembus titik terendah sepanjang sejarah.
“Betul, rupiah menyentuh nilai tukar terendah sepanjang sejarah,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).
Menurut Wijayanto, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan.
Pertama, suku bunga AS yang masih relatif tinggi sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Kedua, kondisi geopolitik global yang tidak stabil, terutama akibat konflik di Timur Tengah, yang meningkatkan persepsi risiko investor. Selain itu, arus keluar modal (capital outflow) telah berlangsung sejak pertengahan 2025.
"Di sisi lain, kondisi fiskal domestik juga dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal," jelas Wijayanto.
Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah sejauh ini masih tertahan oleh intervensi Bank Indonesia (BI). Tanpa intervensi tersebut, nilai tukar rupiah berpotensi melemah lebih dalam.
Baca Juga: Algoritma Media Sosial Seharusnya Bisa Digugat Secara Hukum, Ini Alasannya













