Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai masih akan berlanjut di tengah kuatnya sentimen eksternal, terutama lonjakan harga minyak mentah dunia dan kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).
Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,12% ke level Rp 17.346 per dollar AS.
The Fed sendiri telah mengumumkan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75% dalam rapat terbaru, Rabu (29/4/2026). Keputusan diwarnai perpecahan internal yang cukup tajam, dengan delapan pejabat mendukung dan empat lainnya menolak menjadi voting paling terbelah sejak 1992.
Sementara, harga minyak dunia bergerak dramatis dalam sehari, sempat melonjak US$ 126,41 per barrel, sebelum akhirnya turun tajam di penutupan perdagangan. Mengutip Reuters Jumat siang ini, harga minyak mentah Brent sempat mencapai posisi tertinggi sejak Maret 2022 itu, ditutup turun US$ 4,02 atau 3,41% menjadi US$ 114,01 per barrel.
Kemudian, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah US$ 1,81 atau 1,69% ke posisi US$ 105,07 per barrel, setelah sebelumnya menyentuh US$ 110,93 per barrel.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah disarankan melakukan moratorium atau menangguhkan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih untuk menjaga stabilitas fiskal negara.
Baca Juga: Dampak Rupiah Tertekan: Harga Nasi Padang Naik, Penerbangan Terancam Sepi
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah global. Lonjakan ini membuat kebutuhan pemerintah untuk membeli minyak dengan dollar AS terus meningkat.
Hal itu berpotensi menggerus neraca transaksi berjalan, serta memperlebar defisit anggaran, mengingat asumsi harga minyak dalam APBN hanya di kisaran US$ 70 per barrel dan nilai tukar Rp 16.500 per dollar AS.
Ia menggambarkan kebutuhan minyak mentah Indonesia mencapai 2,1 juta barrel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600.000 barrel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1,5 juta barrel per hari.
“Bayangkan kebutuhan Indonesia untuk minyak mentah itu 2,1 juta barrel (dalam sehari), saya berulang-ulang ini data, 2,1 juta barrel per hari. Produksi minyak di dalam negeri itu hanya 600.000 barrel,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/5/2026).
Ia menilai penguatan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI) saja. Menurutnya, langkah yang perlu dilakukan pemerintah adalah menghentikan sementara alias moratorium program besar seperti MBG, Kopdes Merah Putih, serta belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista), agar anggaran dapat difokuskan untuk pembiayaan impor minyak mentah yang saat ini cukup tinggi.
Menurutnya, opsi itu bukan hal baru. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat terjadi krisis ekonomi, pemerintah memfokuskan anggaran dengan menghentikan berbagai proyek di sejumlah kementerian dan lembaga (K/L).
Hal serupa juga dilakukan pada masa Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat pandemi Covid-19, di mana berbagai proyek dihentikan untuk memprioritaskan penanganan pandemi Covid-19.
Ibrahim memandang kebijakan yang ditempuh SBY dan Jokowi terbilang efektif karena fokus anggaran diarahkan pada sektor yang paling mendesak, sehingga penanganan krisis dapat berjalan lebih optimal.
Baca Juga: Daftar 4 Bansos yang Cair di Bulan Mei 2026, Catat!
Sebaliknya, ia menyayangkan bahwa Presiden Prabowo Subianto belum melakukan hal serupa. Sebaliknya, pemerintah justru mendorong agar program prioritas tetap berjalan.
Oleh karena itu, menurut Ibrahim, jika Bank Indonesia telah melakukan intervensi moneter secara maksimal, maka pemerintah berani mengambil langkah penyesuaian.













