kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45893,43   -4,59   -0.51%
  • EMAS1.326.000 1,53%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rupiah Masih Loyo Kendati Suku Bunga BI Naik, Ini Kata Ekonom


Minggu, 20 November 2022 / 14:18 WIB
Rupiah Masih Loyo Kendati Suku Bunga BI Naik, Ini Kata Ekonom
Karyawan meletakkan uang pecahan Rp100.000 dan Rp 50.000 di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Rupiah Masih Loyo Kendati Suku Bunga BI Naik, Ini Kata Ekonom.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih tertekan hingga akhir perdagangan pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (18/11), rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 15.864 per dolar AS.

Ini melemah 0,13% dibandingkan penutupan pada hari sebelumnya yang sebesar Rp 15.663 per dolar AS. 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah ini cukup wajar, di tengah tren kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Agresivitas arah suku bunga acuan Paman Sam memang membuat mata uang negara berkembang tertekan.  “Agak sulit mengubah arah rupiah di tengah tren kenaikan suku bunga kebijakan The Fed,” terang David kepada Kontan.co.id, Minggu (20/11). 

Baca Juga: Pasar Saham Dibayangi Banyak Sentimen, Berikut Proyeksi IHSG untuk Senin (21/11)

Meski begitu, David mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya, dengan kenaikan suku bunga acuan untuk menjaga daya tarik aset rupiah agar tidak melemah lebih dalam. 

David pun menyiratkan, sepanjang The Fed masih menaikkan suku bunga kebijakannya, masih sulit untuk rupiah kembali ke level di bawah Rp 15.000 per dolar AS. Meski dengan berbagai langkah yang dilakukan oleh BI mampu membawa rupiah menguat dari level pada akhir pekan ini. 

Ia memperkirakan, rupiah pada akhir tahun 2022 akan bergerak di kisaran Rp 15.500 per dolar AS hingga Rp 15.800 per dolar AS. 

Spread antara suku bunga rupiah dan dolar As harus dijaga tetap menarik, di tengah masih berlanjutnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed,” tandas David. 

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan untuk kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). 

Baca Juga: Kurs Rupiah dalam Sepekan Tertekan Faktor Eksternal

Selain untuk menjangkar inflasi, kenaikan suku bunga acuan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya di tengah perkasanya dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Perry menekankan, bila nilai tukar rupiah masih melemah, ini karena faktor kenaikan suku bunga acuan The Fed seiring tingginya inflasi di AS, baik faktor suplai dan permintaan sangat kuat dan faktor upah dan kenaikan jasa-jasa. 

Perry menegaskan BI tidak menargetkan rupiah untuk berada di level tertentu. Namun, yang pasti, bank sentral akan terus menjaga stabilitas rupiah dengan berbagai intervensi yang dilakukan. 

Baca Juga: Prediksi Rupiah Pekan Depan Usai BI Kerek Bunga 50 Basis Poin

Seperti, terus berada di pasar dengan intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, domestic non deliverable forward (DNDF), juga pembelian SBN yang dilepas asing di pasar sekunder. Langkah ini disebut triple intervention. 

Selain itu, BI juga melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder untuk memperkuat transmisi kenaikan suku bunga acuan BI dalam meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN. Ini untuk merangsang masuknya investor portofolio asing untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×