kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Skema Bayar Utang Whoosh


Rabu, 18 Februari 2026 / 18:42 WIB
Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Skema Bayar Utang Whoosh
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih menunggu keputusan Presiden Prabowo Subianto terkait skema pembayaran utang Whoosh (Dok/@keretacepat_id di Instagram)


Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan dirinya masih menunggu petunjuk dari Presiden Prabowo Subianto mengenai skema pembayaran utang Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh 100 persen memakai APBN.

"Saya masih tunggu petunjuk. Saya masih tunggu petunjuk," kata Purbaya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Oleh karena itu, Purbaya menegaskan dirinya belum tahu bagaimana utang Whoosh dibayar.

Selama ini, kata dia, solusi baru datang dari CEO Danantara Rosan Roeslani, yang mana itupun belum jelas.

Baca Juga: Negosiasi Utang Whoosh Masih Berjalan, Pembayaran Tetap Pakai APBN

"Belum tahu. Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Adanya dari Rosan, dari itu kan belum jelas," ucap dia.

Pemerintah Ingin Bayar Utang Lewat Non-APBN

Purbaya menyebut dirinya baru akan melaksanakan sesuatu jika sudah mendapat petunjuk Prabowo.

"Saya kalau ada petunjuk Presiden saya kerjain, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm," imbuh Purbaya.

Sebelumnya, proyek Kereta Cepat Whoosh menimbulkan beban utang yang cukup besar.

Total utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai sekitar 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 120,38 triliun (kurs Rp 16.500 per dollar AS).

Dari total itu, 75 persen dibiayai melalui pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga dua persen per tahun dan tenor 40 tahun.

Baca Juga: Soal Penyelesaian Utang Kereta Cepat, Mensesneg: Masih Negosiasi

Seiring berjalannya waktu, biaya proyek membengkak akibat cost overrun hingga 1,2 miliar dollar AS.

Tambahan utang tersebut dikenakan bunga di atas tiga persen per tahun.

Pinjaman tambahan sebesar 542,7 juta dollar AS digunakan untuk menutup pembengkakan biaya yang menjadi tanggungan konsorsium Indonesia sebesar 75 persen.

Sisanya dipenuhi melalui penyertaan modal negara (PMN) dari APBN.

Di sisi lain, bisnis Kereta Cepat Whoosh masih mencatatkan kerugian sejak beroperasi pada 17 Oktober 2023.

KAI bersama dengan tiga BUMN lainnya harus menanggung renteng kerugian dari Whoosh sesuai porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI).

Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited) yang dipublikasikan di situs resminya, entitas anak KAI, PT PSBI, tercatat merugi hingga Rp 4,195 triliun sepanjang 2024.

Artinya, dalam sehari saja bila menghitung dalam setahun ada 365 hari, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung rugi dari beban KCIC sebesar Rp 11,493 miliar per hari.

Selanjutnya: Catatan Net Sell Saham Bank BUMN Diproyeksi Tak Bertahan Lama

Menarik Dibaca: Provinsi Ini Hujan Amat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (19/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×