Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden RI Prabowo Subianto meminta maaf kepada para menterinya karena sering menjadi sosok yang micromanage atau terlalu mengawasi dan mengontrol kerja mereka.
"Saya adalah manajer yang terjun langsung. Para menteri saya, maafkan saya karena terlalu micromanage. Ya, saya akui saya seorang manajer yang terlalu mengontrol. Saya akan menelepon para menteri saya, pukul dua malam atau lima pagi, dan saya akan menanyakan harga telur hari ini," ujar Prabowo dalam forum Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Prabowo Ajak Pengusaha Jepang Investasi di Indonesia, Ini yang Ditawarkan
Prabowo mengatakan, dirinya menyesal sering menelepon menteri malam-malam dan menjadi sosok yang micromanage.
Sebab, kata dia, beberapa menteri kerap pingsan di depan umum. Bahkan, mereka sampai terkena masalah jantung.
"Dan sekarang, saya merasa sedikit menyesal, karena beberapa menteri saya pingsan di depan umum. Dan terkadang saya mendapat laporan beberapa pejabat senior saya di rumah sakit. Mengapa? Masalah jantung," jelasnya.
"Jadi saya merasa bersalah. Karena mungkin itu, karena atasan mereka terlalu mengontrol," imbuh Prabowo.
Baca Juga: Direktur Maktour dan Ketum Kesthuri Jadi Tersangka Baru Korupsi Kuota Haji
Apa itu micromanagement?
Dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Kamis (20/6/2024), manajemen mikro atau micromanagement adalah kepemimpinan yang melibatkan kontrol berlebihan dan sangat memperhatikan detail.
Micromanager memantau dengan cermat semua yang dilakukan oleh setiap anggota timnya.
Contohnya, pemimpin selalu ingin tahu apa yang sedang anggotanya lakukan saat ini, sudah sampai mana proses suatu pekerjaan, dan cenderung ikut serta dalam pengerjaan tugas yang sudah didelegasikan kepada anggota tim.
Baca Juga: Konsumsi Lebaran Dorong Ekonomi Kuartal I-2026, Indef Ingatkan Itu Sementara
Micromanager tidak memercayai karyawannya untuk mengambil keputusan paling mendasar sekalipun dan meragukan kemampuan atau kompetensi mereka.
Hal ini melemahkan otonomi karyawan dan dapat menciptakan lingkungan kerja toxic alias tidak sehat.
Memiliki atasan yang menerapkan micromanagement berarti dia tidak dapat mendelegasikan tugas, kurang memiliki keterampilan komunikasi dengan sesama karyawan atau bawahan, dan dapat menjadi sangat kritis, sehingga menurunkan semangat kerja dan menghambat produktivitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













