kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 18.002   78,00   0,44%
  • IDX 6.150   -91,81   -1,47%
  • KOMPAS100 801   -12,30   -1,51%
  • LQ45 613   -8,04   -1,29%
  • ISSI 212   -2,97   -1,38%
  • IDX30 340   -4,12   -1,20%
  • IDXHIDIV20 428   -1,77   -0,41%
  • IDX80 92   -1,40   -1,51%
  • IDXV30 116   -0,61   -0,53%
  • IDXQ30 110   -0,78   -0,70%

Outstanding SRBI Capai Rp 1.013 Triliun, BI Akan Turunkan


Senin, 28 September 2026 / 12:44 WIB
Outstanding SRBI Capai Rp 1.013 Triliun, BI Akan Turunkan
ILUSTRASI. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, yield SRBI tenor 12 bulan saat ini telah turun menjadi 6,76%, dari level tertingginya yang sempat mencapai 7,74%. (REUTERS/Claudio Pramana)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus mendorong penurunan imbal hasil atau yield dan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari upaya memperbesar ruang likuiditas bagi perekonomian.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, yield SRBI tenor 12 bulan saat ini telah turun menjadi 6,76%, dari level tertingginya yang sempat mencapai 7,74%.

Tak hanya yield, posisi outstanding SRBI juga terus menyusut. Destry mencatat, outstanding SRBI telah turun dari Rp 1.096 triliun menjadi Rp 1.013 triliun pada 23 September 2026. Posisi ini lebih rendah bila dibandingkan Juni 2026 menembus level Rp 1.072,62 triliun, meski masih lebih tinggi bila dibandingkan posisi Januari 2026 sebesar Rp 754,76 triliun.

"Kami juga terus mendorong penurunan yield dan outstanding dari SRBI, di mana yield SRBI 12 bulan saat ini berada di level 6,76% dan lebih rendah dibandingkan level tertingginya yaitu 7,74%," ujar Destry saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

Baca Juga: BI Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Capai 6% di Tahun 2027

Menurut Destry, penurunan outstanding SRBI tersebut memberikan ruang likuiditas yang lebih besar untuk mengalir ke perekonomian.

Upaya memperlonggar likuiditas juga dilakukan BI melalui instrumen FX Swap dan repo. Secara kumulatif, tambahan likuiditas yang disalurkan melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai sekitar Rp 387 triliun sepanjang tahun ini.

Destry mengatakan kondisi likuiditas secara makro sejauh ini masih cukup terkendali. Hal tersebut antara lain tercermin dari suku bunga pasar uang antarbank overnight yang telah turun menjadi 5,91%, setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi 6,61% pada Juni.

Selain melalui operasi moneter, BI mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama September, insentif likuiditas yang telah diberikan mencapai Rp 461,2 triliun.

BI juga memperkenalkan kebijakan KLM Pendalaman Pasar Uang untuk mendorong efektivitas penyaluran kredit perbankan. Dalam kebijakan tersebut, bank dengan penempatan dana pada surat berharga, termasuk SBI maupun SRBI, lebih dari 19% tidak akan memperoleh tambahan insentif.

Sebaliknya, bank dengan kepemilikan surat berharga di bawah 19% dan menyalurkan kredit akan memperoleh tambahan insentif sebesar 2%. Dengan demikian, total insentif KLM yang dapat diperoleh bank tersebut mencapai 6%, termasuk insentif pembiayaan sebesar 4%.

Baca Juga: BI Catat Aset keuangan Syariah Naik Jadi Rp 3.312 Triliun pada Kuartal II 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×