Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mulai mengurangi intervensi langsung di pasar valuta asing (valas) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan dengan menggeser porsi intervensi dari instrumen spot ke instrumen non-spot seperti Non-Deliverable Forward (NDF).
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, intervensi melalui transaksi spot yang secara langsung menggunakan cadangan devisa kini porsinya telah jauh berkurang. Saat ini, intervensi spot hanya sekitar 30% dari total intervensi yang dilakukan BI.
“Intervensi yang mahal itu adalah melalui spot. Melalui spot sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan,” ujar Destry saat melakukan rapat kerja di Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, Menteri Haji Soroti Kenaikan Harga Avtur
Menurut dia, strategi tersebut dilakukan dengan mengembangkan penggunaan instrumen NDF. Dengan demikian, BI tidak harus selalu melakukan intervensi secara langsung melalui penjualan dolar AS di pasar spot yang dapat mengurangi cadangan devisa.
“Intervensi itu ada di NDF dan spot. Jadi kalau dulu dominannya spot karena kita langsung jual dolar dan itu langsung menggerus cadangan devisa kita,” kata Destry.
Destry menambahkan, penggunaan instrumen NDF dinilai dapat membuat intervensi BI lebih efektif dalam merespons tekanan terhadap nilai tukar. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih tetap ada karena terdapat persoalan fundamental dan struktural yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi di pasar valas.
Untuk itu, BI bersama pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga mendorong kebijakan yang dapat memperkuat fundamental perekonomian, antara lain melalui peningkatan ekspor dan masuknya investasi.
Baca Juga: Alasan BI Tak Kerek Suku Bunga: Kenaikan BI Rate 0,25% Bisa Tekan Ekonomi 0,1%
“Dengan intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, itu akan berat. sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment,” ujar Destry.
Rupiah di pasar spot pun terlihat terus melemah terhadap dolar AS. Pada Senin (28/9/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,42% ke Rp 17.978 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














