Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto mengakui tantangan yang dihadapi pemerintahannya jauh lebih berat dibandingkan perkiraan awal. Menurutnya, setelah hampir dua tahun memimpin, pemerintah menemukan berbagai persoalan mendasar yang selama ini membebani perekonomian nasional.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/02026).
Ia mengatakan, pemerintah sengaja menggelar agenda ini dalam ragma evaluasi menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia untuk menilai capaian sekaligus tantangan yang masih harus diselesaikan.
Baca Juga: Polri Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Pembiayaan PT PPA, Cek Potensi Kurugian Negara
Menurut Prabowo, pemerintah sejak awal menyadari masih banyak persoalan yang harus dibenahi, mulai dari rendahnya kesejahteraan guru, keterbatasan lapangan kerja, kemiskinan ekstrem, hingga ketimpangan ekonomi. Namun, ia mengaku tidak menyangka bahwa sejumlah persoalan yang diwarisi ternyata jauh lebih besar dari perkiraan.
"Terus terang saja, sebagai Presiden, bersama Wakil Presiden, saya bersumpah saya sendiri tidak menduga sesungguhnya betapa beberapa masalah itu sangat di luar perkiraan kita," tutur Prabowo dalam sambutannya.
Prabowo menilai salah satu persoalan terbesar adalah terjadinya distorsi dalam perekonomian nasional yang menyebabkan kekayaan Indonesia terus mengalir ke luar negeri.
Ia menyebut praktik seperti underinvoicing, pemalsuan laporan perdagangan, transfer pricing, hingga penyelundupan menjadi penyebab kebocoran kekayaan negara yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah setiap tahun.
"Terjadi suatu distorsi terhadap perekonomian kita, telah terjadi mengalir keluar kekayaan kita secara signifikan. Ribuan triliun, ratusan miliar dolar tiap tahun," ujarnya.
Menurut Prabowo, data tersebut bukan berasal dari pemerintah, melainkan dari berbagai lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia juga menyinggung ironi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang sempat mengalami kelangkaan minyak goreng. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola ekonomi nasional.
Meski menghadapi tantangan yang lebih besar dari perkiraan, Prabowo menegaskan pemerintah tidak boleh gentar menghadapi berbagai persoalan tersebut.
Ia menekankan bahwa kabinet dibentuk bukan untuk mencari kesalahan pemerintahan sebelumnya, melainkan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Kita tidak boleh takut dengan masalah, kita tidak boleh takut dengan kesulitan, kita tidak boleh takut dengan kekurangan. Justru kita dipilih, diberi mandat untuk menyelesaikan masalah," tegasnya.
Baca Juga: Istana Bantah Isu Reshuffle, Belum Ada Rencana Pergantian Menteri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
