kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.030   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.165   116,72   1,66%
  • KOMPAS100 990   18,37   1,89%
  • LQ45 728   11,95   1,67%
  • ISSI 255   3,90   1,55%
  • IDX30 394   5,94   1,53%
  • IDXHIDIV20 492   4,04   0,83%
  • IDX80 112   1,91   1,74%
  • IDXV30 136   0,32   0,24%
  • IDXQ30 128   1,71   1,35%

PMI Manufaktur Indonesia Turun Tajam pada Maret 2026, Terdampak Konflik Timur Tengah


Rabu, 01 April 2026 / 08:32 WIB
Diperbarui Rabu, 01 April 2026 / 08:33 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Turun Tajam pada Maret 2026, Terdampak Konflik Timur Tengah
ILUSTRASI. Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perlambatan signifikan pada akhir kuartal I-2026. ? (Dok/Kemenperin)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perlambatan signifikan pada akhir kuartal I-2026. 

Indeks PMI (Purchasing Manager's Index) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari 53,8 pada Februari, menandakan kondisi operasional yang nyaris stagnan. 

Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat tumbuh.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengungkapkan bahwa penurunan output pada Maret menjadi yang terdalam dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, permintaan ekspor juga mencatat penurunan tajam, memperburuk kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan. 

Baca Juga: Resmi! Mobil Pribadi Maksimal Beli BBM 50 Liter/Hari, Cek Harga BBM Terkini 1 April

"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah," ujar Bhatti dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan, perang di Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian berdampak pada produksi dan permintaan serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun.

"Selain itu, melemahnya produksi dan kebutuhan kapasitas mendorong perusahaan memasuki fase pengetatan, dengan menurunkan aktivitas pembelian dan tingkat ketenagakerjaan," katanya.

Dari sisi harga, tekanan inflasi semakin meningkat. Harga input naik ke level tertinggi sejak Maret 2024, sementara harga output mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. 

Kenaikan ini didorong oleh kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman, yang bahkan menjadi yang paling parah sejak Oktober 2021. 

Melemahnya permintaan juga berdampak pada aktivitas produksi dan tenaga kerja. Perusahaan mulai mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025 serta menekan jumlah tenaga kerja meski dalam skala terbatas. 

Baca Juga: Kebijakan WFH dan Pembatasan BBM Berpotensi Menahan Laju Ekonomi Jika Tanpa Stimulus

Di sisi lain, penurunan penjualan menyebabkan peningkatan stok barang jadi akibat produk yang belum terserap pasar. 

Meski demikian, pelaku industri masih menyimpan optimisme terhadap prospek ke depan. Keyakinan bahwa permintaan akan pulih serta harapan tidak adanya eskalasi konflik lebih lanjut menjadi faktor penopang sentimen bisnis, meski tingkat optimisme masih berada di bawah rata-rata jangka panjang. 

"Data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan," pungkas Bhatti. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×