kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,11   -24,03   -2.49%
  • EMAS929.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.20%

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tak maksimal pada 2021 karena faktor ini


Senin, 22 November 2021 / 19:32 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tak maksimal pada 2021 karena faktor ini
ILUSTRASI. Petugas teller melayani nasabah di kantor cabang Bank Mandiri Bintaro Tangerang Selatan, Rabu (29/9). Pertumbuhan ekonomi Indonesia tak maksimal pada 2021 karena faktor ini.

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Tingginya kredit menganggur atau undisbursed loan yang mencapai Rp 1.700 triliun dinilai dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini disampaikan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira dalam bincang virtual Ekonomic Outlook “kebangkitan sekor keuangan,” pada Senin (22/11).

Menurutnya, perbankan harus menyalurkan kreditnya kepada beberapa pengusaha yang mengalami pertumbuhan positif tahun ini, meskipun pandemi Covid-19 belum juga usai. Beberapa sektor yang bisa disalurkan kreditnya antara lain industri otomotif kendaraan bermotor dan sektor komunikasi.

Menurutnya, kebutuhan digitalisasi saat ini sangat membutuhkan dana investasi yang besar untuk cloud computing dan data center. Selanjutnya, sektor pertambangan dan konstruksi.

Baca Juga: LPS: Pertumbuhan monetary base 15,37% akan dukung ekspansi ekonomi nasional

“Artinya bank diminta untuk melihat beberapa sektor yang terbaik untuk disalurkan kredit dalam jumlah yang jauh lebih besar. Apalagi di sektor-sektor yang serapan tenaga kerjanya juga besar,” jelasnya.

Selain itu, terdapat juga sektor kredit konsumsi dimana permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang paling cepat pertumbuhannya bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan segmen kredit konsumsi lainnya.

Bhima menyarankan agar pemerintah dapat memberikan insentif dalam bentuk suku bunga yang lebih murah di konstruksinya. Sehingga jika bisa lebih murah, nantinya harga jual rumah di level konsumen justru lebih mudah terbeli.

Selain itu, pemerintah juga bisa menjamin biaya-biaya produksi seperti semen berada di level terjangkau. Sebab, jika barang material impornya menjadi naik menjadi inflasi, maka dikhawatirkan bisa menekan pertumbuhan laju dari penyaluran kredit KPR. Karena pertumbuhan kredit perlu didorong karena tidak semua sektor mengalami kontraksi, ada beberapa yang cerah ke depannya.

“Tentunya dengan proyek-proyek pemerintah seperti infrastruktur, konstruksi yang masih bisa positif bahkan di prediksi bisa tumbuh sampai 7% hingga 8%. Jadi tidak ada alasan sebenarnya bank untuk terlalu lama berjaga-jaga atau khawatir berlebihan,” pungkasnya.

 

 

 

 

Selanjutnya: Anda wajib wapada, ini 5 bahaya asam lambung

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Tuntas Mendelegasikan Tugas Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale Batch 4

[X]
×