kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Ekonom Menilai Perluasan Kawasan Tiga KEK Belum Cerminkan Minat Investasi Nasional


Minggu, 05 Juli 2026 / 14:25 WIB
Ekonom Menilai Perluasan Kawasan Tiga KEK Belum Cerminkan Minat Investasi Nasional
ILUSTRASI. Kawasan Ekonomi Khusus Kendal (DOK/KEK Kendal)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mengajukan perluasan area karena kapasitas kawasan telah terpakai seluruhnya. 

Pemerintah menilai kondisi tersebut mencerminkan tingginya minat investasi, khususnya di KEK berbasis manufaktur.

Menanggapi hal itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pengajuan ekspansi lahan belum bisa langsung diartikan sebagai meningkatnya minat investasi secara nasional. 

Menurut Rendy, perluasan kawasan hanya menunjukkan kebutuhan tambahan kapasitas di sejumlah KEK yang telah penuh, bukan mencerminkan realisasi investasi di seluruh kawasan ekonomi khusus.

Baca Juga: Ditjen Pajak Manfaatkan Bukti Potong Marketplace untuk Perluas Basis Pajak

"Memang ada sinyal bahwa minat investasi di beberapa KEK sangat kuat. Namun, pengajuan perluasan lahan tidak bisa langsung diartikan sebagai tingginya minat investasi secara nasional karena perluasan kawasan baru mencerminkan kebutuhan kapasitas, bukan realisasi investasi," ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).

Ia mencatat, dari sekitar 25 KEK yang beroperasi di Indonesia, baru tiga kawasan yang benar-benar mencapai kapasitas maksimal. Hal tersebut menunjukkan minat investor masih terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki daya saing tinggi, belum tersebar merata ke seluruh KEK.

Oleh karena itu, Yusuf menilai pemerintah perlu membedakan kebutuhan ekspansi dari perspektif kawasan dan nasional. Perluasan lahan memang diperlukan bagi KEK yang telah penuh agar peluang investasi tidak berpindah ke negara lain seperti Vietnam atau Thailand. 

Di saat yang sama, pemerintah juga harus mempercepat perbaikan infrastruktur, pasokan listrik, konektivitas logistik, serta kepastian perizinan di KEK yang tingkat keterisiannya masih rendah agar lebih menarik bagi investor.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, rata-rata KEK yang mengajukan ekspansi meminta tambahan lahan hingga dua kali lipat.

"Dengan usul perluasan artinya apa? Kapasitasnya itu sudah utilize semuanya, sudah terpakai, sehingga pada saat akan ada investasi masuk yang baru, investor asing yang masuk, nah ini mereka mengajukan perluasan lahan, dan rata-rata dua kali lipat," kata Susiwijono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Menurut Susiwijono, tiga KEK yang telah mengajukan perluasan yakni KEK Kendal di Jawa Tengah, KEK Gresik di Jawa Timur, dan KEK Galang Batang di Kepulauan Riau. 

Baca Juga: Konsumsi Masyarakat di Kuartal II 2026 Tumbuh Lebih Tinggi, Terdorong Efek Low Base

KEK Kendal telah mencapai tingkat keterisian 100% dengan sekitar 140 industri yang bergerak di sektor elektronik, tekstil, peralatan rumah tangga, hingga rantai pasok industri baterai seperti anoda dan katoda di lahan seluas sekitar 1.000 hektare.

"Nah itu dengan luas KEK hanya sekitar 1.000 hektare, mereka sudah penuh dan mengajukan (tambahan area) lagi sekarang. Perluasan 1.000 hektare di sebelahnya," ujarnya.

Selain itu, KEK Galang Batang mengusulkan tambahan lahan seluas 2.700 hektare untuk mengakomodasi industri pengolahan bauksit, pengembangan alumina menjadi produk hilir hingga refinery. 

Pemerintah juga melihat investasi pusat data (data center) akan menjadi salah satu motor pertumbuhan investasi di KEK. Saat ini terdapat sekitar 10 perusahaan data center di KEK Nongsa Digital Park, Batam, dan pemerintah mendorong investasi serupa masuk ke kawasan lain. 

Kapasitas data center nasional yang baru sekitar 600 megawatt (MW) dinilai masih jauh dari kebutuhan, terutama dengan rencana investasi grup DAMAC asal Uni Emirat Arab yang mencapai sekitar 1,2 hingga 1,3 gigawatt (GW).

"Ada perkiraan kok, setiap 1 megawatt data center itu perlu beberapa juta USD. Nah kalau 1,2 gigawatt atau 1,3 gigawatt, kan berarti 1.300 kali jutaan USD, pasti miliar USD," ungkap Susiwijono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×