kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.870   24,00   0,14%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Penjualan Eceran Desember 2025 Tumbuh, Tapi Laju Tahunan Melambat


Senin, 12 Januari 2026 / 18:28 WIB
Penjualan Eceran Desember 2025 Tumbuh, Tapi Laju Tahunan Melambat
ILUSTRASI. (KONTAN/Bidara Pink) Data Bank Indonedia (BI) menunjukkan, kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh. ?


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Data Bank Indonedia (BI) menunjukkan, kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 yang diprakirakan tumbuh sebesar 4,4% year on year  (yoy).

Meski demikian, perkiraan pertumbuhan IPR tersebut lebih rendah dari November 2025 yang tumbuh 6,3% yoy.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, melemahnya laju pertumbuhan IPR dari 6,3% yoy pada November 2025 menjadi 4,4% yoy pada Desember 2025 menunjukkan perubahan pola pembanding dan sebaran belanja.

Berdasarkan survei BI memperlihatkan bahwa secara bulanan, penjualan eceran Desember 2025 diperkirakan naik 4,0% month to month (mtm), jauh lebih tinggi daripada kenaikan bulanan November 1,5% mtm. Sementara itu, kenaikan bulanan pada Desember ini didorong menguatnya permintaan pada masa Natal dan Tahun Baru serta kelancaran distribusi.

Baca Juga: PDI-P Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dorong Pemilihan Langsung Berbasis E-Voting

“Artinya, momentum akhir tahun tetap ada, tetapi jika dibandingkan Desember tahun sebelumnya, kenaikannya tampak lebih moderat,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (12/1/2025).

Salah satu penjelasan yang masuk akal adalah sebagian belanja Natal dan Tahun Baru memang dimajukan ke November, karena pada November permintaan sudah meningkat untuk persiapan periode akhir tahun.

Selain itu, perlambatan secara tahunan juga dipengaruhi ketimpangan kinerja antarwilayah dan komposisi barang.

“Salah satu penjelasan yang masuk akal adalah sebagian belanja Natal dan Tahun Baru memang dimajukan ke November, karena pada November permintaan sudah meningkat untuk persiapan periode akhir tahun,” ungkapnya.

Faktor selanjutnya, kata Josua adalah perlambatan secara tahunan dipengaruhi oleh ketimpangan kinerja antarwilayah serta komposisi barang. Untuk Desember 2025, sejumlah kota besar diperkirakan justru mencatat penurunan IPR secara tahunan, seperti DKI Jakarta, Bandung, Medan, Manado, dan Makassar, sehingga kontribusinya menahan laju nasional meskipun kota lain seperti Surabaya dan Semarang masih menunjukkan kinerja yang kuat.

Dari sisi perilaku rumah tangga, Josua melihat terdapat sinyal kehati-hatian, yang mana keyakinan konsumen tetap optimis namun sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya, sementara porsi pendapatan untuk konsumsi turun menjadi 74,3% dan porsi tabungan naik menjadi 14,9%.

Menurutnya, faktor tersebut terjadi lantaran kombinasi sebaran wilayah yang tidak merata dan konsumen yang lebih selektif biasanya membuat belanja terkonsentrasi pada kebutuhan tertentu, sementara belanja barang yang sifatnya pilihan lebih mudah tertahan, sehingga pertumbuhan tahunan terlihat melambat walau aktivitas belanja akhir tahun tetap terjadi.

Ke depan, ia memperkirakan pada 2026 kinerja penjualan eceran cenderung mengikuti pola normalisasi setelah puncak akhir tahun.

Berdasarkan survei BI, responden menilai penjualan eceran akan melemah dalam tiga bulan mendatang, tercermin dari indeks ekspektasi penjualan tiga bulan ke depan yang turun ke level 143,2. Namun, untuk horizon enam bulan, kondisi diperkirakan membaik dengan indeks enam bulan ke depan yang meningkat ke 145,0.

“Hal ini mengindikasikan bahwa awal tahun berpotensi bergerak lebih mendatar, sebelum permintaan kembali menguat seiring masuknya rangkaian hari besar di pertengahan semester,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Josua menyebut,tantangan penjualan eceran pada 2026 utamanya ada pada daya beli riil yang masih rentan karena sebagian rumah tangga memilih menambah tabungan, potensi tekanan harga dalam jangka pendek yang dapat menggeser belanja ke kebutuhan pokok, ketimpangan pemulihan antarwilayah.

“Serta persaingan harga dan pola belanja yang makin cepat berubah sehingga pedagang harus lebih presisi mengelola persediaan dan promosi,” tandasnya.

Baca Juga: Lulusan Kampus Magang 2026: Gaji Penuh, Bebas Potongan PPh 21

Selanjutnya: Tol Waskita Siap Lebaran 2026: Semua Ruas Tuntas Konstruksi

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (13/1), Hujan Sangat Deras di Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×