kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pengusaha berharap BI rate bisa turun


Senin, 14 April 2014 / 16:24 WIB
UNVR dan GOTO Terbesar, Ini Saham-saham yang Banyak Dijual Asing, Senin (21/11)


Reporter: Syarifah Nur Aida | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani menilai, suku bunga sebesar 7,5% yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) perlu ditinjau ulang mengingat situasi ekonomi saat ini lebih stabil dibanding tahun lalu.

Selain itu, cadangan devisa pun kian meningkat. "Konsumsi dalam negeri didorong pemilu juga mengalami peningkatan," ujarnya saat dihubungi KONTAN, Senin (11/4).

Peninjauan kembali suku bunga dianggap mendesak terutama mengingat Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Dibanding negara ASEAN lain, Indonesia memiliki suku bunga tertinggi.

Pengaruh tingginya tingkat suku bunga dirasakan secara langsung oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) karena menghambat pengembangan usaha.

Saat ini, pembiayaan modal andalan para pengusaha UKM adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Suku bunga yang tinggi membuat sejumlah perbankan menetapkan bunga KUR di atas dua digit, bahkan di atas 15%. "Bagaimana mau cinta dengan produk dalam negeri kalau harganya mahal," tandas Franky.

Apindo menyebut penurunan suku bunga penting agar produk Indonesia bisa bersaing dengan produk ASEAN lain yang dalam proses produksinya mendapatkan bunga yang lebih murah. Lebih jauh, suku bunga tinggi juga mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×