kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Pengusaha berharap BI rate bisa turun


Senin, 14 April 2014 / 16:24 WIB
UNVR dan GOTO Terbesar, Ini Saham-saham yang Banyak Dijual Asing, Senin (21/11)


Reporter: Syarifah Nur Aida | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani menilai, suku bunga sebesar 7,5% yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) perlu ditinjau ulang mengingat situasi ekonomi saat ini lebih stabil dibanding tahun lalu.

Selain itu, cadangan devisa pun kian meningkat. "Konsumsi dalam negeri didorong pemilu juga mengalami peningkatan," ujarnya saat dihubungi KONTAN, Senin (11/4).

Peninjauan kembali suku bunga dianggap mendesak terutama mengingat Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Dibanding negara ASEAN lain, Indonesia memiliki suku bunga tertinggi.

Pengaruh tingginya tingkat suku bunga dirasakan secara langsung oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) karena menghambat pengembangan usaha.

Saat ini, pembiayaan modal andalan para pengusaha UKM adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Suku bunga yang tinggi membuat sejumlah perbankan menetapkan bunga KUR di atas dua digit, bahkan di atas 15%. "Bagaimana mau cinta dengan produk dalam negeri kalau harganya mahal," tandas Franky.

Apindo menyebut penurunan suku bunga penting agar produk Indonesia bisa bersaing dengan produk ASEAN lain yang dalam proses produksinya mendapatkan bunga yang lebih murah. Lebih jauh, suku bunga tinggi juga mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×