kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pengurangan Bahaya Tembakau: Strategi Pelengkap Kurangi Bahaya Rokok


Senin, 04 Mei 2026 / 17:49 WIB
Pengurangan Bahaya Tembakau: Strategi Pelengkap Kurangi Bahaya Rokok
ILUSTRASI. Produk Tembakau Alternatif Butuh Regulasi yang Adil dan Proporsional (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya menjaga kebugaran dan fokus di tengah tuntutan pekerjaan yang kian tinggi terus menjadi perhatian, termasuk dalam pengelolaan risiko kesehatan akibat tingkat konsumsi tembakau. Salah satu pendekatan yang mulai banyak dibahas adalah strategi pengurangan bahaya tembakau atau tobacco harm reduction (THR) untuk mengurangi risiko dan berpaling dari kebiasaan merokok. Sejumlah dokter gigi dan akademisi menilai pendekatan ini dapat berdampak positif bagi kesehatan mulut, jika dibandingkan dengan kebiasaan merokok.

Kolonel Laut (K) Dr. drg. Yun Mukmin A., Sp.Ort. menegaskan bahwa selama ini upaya menekan angka perokok masih sebatas imbauan rutin yang dirasa kurang efektif. Diperlukan strategi yang lebih aplikatif yang berbasis bukti ilmiah untuk mengelola risiko kesehatan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Akvindo: Dukungan Pemerintah Penting untuk Mengurangi Kebiasaan Merokok

"Kalau hanya sekadar imbauan, biasanya kurang mengena. Maka itu, perlu ada strategi yang lebih jitu supaya prevalensi perokok itu menurun drastis. Maka penelitian-penelitian dari akademisi bisa menjadi rujukan penting untuk menyusun program untuk menurunkan prevalensi perokok,” ujar Yun Mukmin, dikutip Senin (4/5/2026).

Sementara itu, Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Amaliya  dalam penelitian terbarunya menemukan bahwa terdapat prevalensi merokok yang cukup tinggi di lingkungan yang penuh dengan kondisi stres. ”Bagi mereka yang membutuhkan fokus dan kewaspadaan tinggi, sering kali merokok dianggap sebagai suatu kebiasaan yang dapat melepaskan stres,” jelas Prof. Amaliya.

Kendati dianggap sebagai suatu kebiasaan yang dapat meredakan stres, menurut Prof. Amaliya, mengonsumsi tembakau yang dibakar seperti rokok masih memiliki risiko tinggi. Untuk itu, ia menekankan bahwa kehadiran produk tembakau alternatif sebagai strategi untuk mendukung pengurangan bahaya tembakau.

“Jadi, kalau menurut saya, strategi tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau ini merupakan ajuran atau complementary. Yang artinya, memberikan dukungan dan tambahan terhadap program berhenti merokok yang masih merupakan gold standard,” tambah Prof. Amaliya.

Ia menekankan bahwa bagi yang merokok, jauh lebih baik untuk berhenti merokok. Akan tetapi, ia memahami hal ini tidak selalu mudah bagi para perokok. Implementasi strategi tobacco harm reduction diharapkan dapat mengisi celah bagi para perokok dewasa yang belum mampu berhenti sepenuhnya namun ingin menurunkan risiko paparan zat beracun secara signifikan. Dengan demikian, penurunan risiko terkena penyakit akibat asap rokok dapat tercapai melalui pengurangan paparan zat beracun hingga 90% dibandingkan dengan rokok.

Tinjauan Klinis dan Solusi Alternatif

Inti dari pendekatan tobacco harm reduction adalah mengeliminasi proses pembakaran yang menghasilkan TAR dan zat beracun lainnya, tanpa menghilangkan asupan nikotin yang dibutuhkan untuk tetap fokus.

Prof. Amaliya menekankan bahwa produk tembakau alternatif yang menghantarkan nikotin melalui proses pemanasan berpotensi mampu menurunkan risiko kesehatan secara signifikan karena tidak melibatkan pembakaran.

Dari sisi klinis, ia memaparkan dampak luar biasa yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan bersama University of Catania di Italia. “Mereka yang beralih ke produk tembakau alternatif memperlihatkan perilaku sel yang normal, hampir sama dengan orang yang tidak merokok, sementara yang tetap merokok bakar memperlihatkan perilaku sel yang tidak normal. Dalam tiga bulan saja sudah terlihat peredaran darah gusi lancar kembali dan indera perasa di lidahnya kembali normal,” jelas Prof. Amaliya.

Dari penelitian tersebut, Prof. Amaliya pun menekankan edukasi mengenai risiko kesehatan akibat merokok yang dibakar tetap menjadi prioritas utama dalam setiap program kesehatan untuk mencegah penyakit sistemik maupun kanker rongga mulut.

“Mereka yang gagal untuk berhenti merokok itu harus kita tolong dengan memberikan solusi. Solusinya daripada meneruskan produk rokok yang dibakar yang memberikan risiko penyakit yang lebih tinggi dengan bahaya yang lebih tinggi, kenapa tidak switch ke produk tembakau bebas asap yang bahayanya lebih rendah?,” katanya.

Menanggapi penelitian tersebut, Dr. Yun Mukmin juga menyoroti bahaya utama dari tembakau yang dikonsumsi melalui proses pembakaran. Menurutnya, zat-zat berbahaya muncul akibat pembakaran, beda hal dengan produk bebas asap yang dipanaskan.

“Ya, kalau tembakau yang dipanaskan itu selain nikotin, ada zat-zat lain yang juga dihasilkan dari proses pembakaran. Zat-zat lain inilah yang berbahaya untuk tubuh. Sehingga dicarilah cara agar kebutuhan nikotin tetap terpenuhi tanpa adanya zat-zat lain yang akibat proses pembakaran itu. Sehingga muncul produk tembakau alternatif ini, bukan yang dibakar tapi dipanaskan,” tambah Dr. Yun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×