Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Namun, kondisi arus modal belum sepenuhnya satu arah memasuki September. SBN dan saham masih mencatat arus masuk, sementara SRBI mengalami arus keluar. Secara keseluruhan, arus portofolio pada awal September tercatat sekitar minus US$0,26 miliar.
“Dengan demikian, terlalu dini menganggap penguatan rupiah beberapa hari terakhir pasti diterjemahkan menjadi kenaikan cadangan devisa berikutnya,” kata Josua.
Untuk September 2026, Josua memperkirakan cadangan devisa cenderung stabil dengan peluang kenaikan terbatas di kisaran US$ 146 miliar hingga US$ 147,5 miliar. Titik tengah proyeksinya berada di sekitar US$ 146,5 miliar hingga US$ 147 miliar.
Ia membeberkan, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menopang cadangan devisa, seperti rupiah yang lebih kuat sehingga menurunkan kebutuhan intervensi BI, imbal hasil SBN Indonesia yang masih menarik, serta implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang mulai berlaku pada September.
Kebijakan tersebut dinilai dapat memperbesar ketersediaan valas di dalam negeri. Namun, DHE SDA tidak secara otomatis menambah cadangan devisa resmi BI, melainkan lebih berperan dalam meningkatkan pasokan dolar di pasar domestik sehingga kebutuhan intervensi BI dapat berkurang.
Namun, Josua belum melihat ruang bagi kenaikan cadangan devisa yang signifikan pada September 2026. Padalnya Pemerintah masih memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri, sementara BI tetap harus bersiap melakukan stabilisasi apabila rupiah kembali bergejolak.
Baca Juga: Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?
Selain itu, arus modal asing masih sangat sensitif terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS). Tekanan juga dapat kembali muncul apabila imbal hasil surat utang AS meningkat atau terjadi kenaikan harga minyak global.
“Karena itu saya lebih melihat September sebagai bulan konsolidasi cadangan devisa setelah pemulihan Agustus, bukan awal kenaikan tajam,” ujarnya.
Untuk akhir 2026, Josua masih mempertahankan proyeksi cadangan devisa pada kisaran US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar. Dengan posisi Agustus sebesar US$146,5 miliar, ruang kenaikan masih terbuka, tetapi skenario dasarnya masih mengantisipasi adanya tekanan pada kuartal IV 2026.
Josua juga mempertahankan proyeksi rupiah akhir tahun di kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS. Menurutnya, cadangan devisa lebih mungkin berada di kisaran US$ 145 miliar–US$ 147 miliar apabila penguatan rupiah dan arus masuk SBN berlanjut.
Sebaliknya, cadangan devisa dapat bergerak menuju US$ 143 miliar–US$ 145 miliar apabila terjadi kenaikan suku bunga AS, lonjakan harga minyak, eskalasi konflik Timur Tengah atau keluarnya modal asing dalam jumlah besar.
Josua menilai ruang kenaikan cadangan devisa juga masih terbatas karena fundamental eksternal Indonesia lebih lemah dibandingkan tahun sebelumnya.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai sekitar 2,49% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 0,09% pada 2025.
“Kebutuhan devisa perekonomian masih cukup besar,” tuturnya.
Baca Juga: Disokong Sinyal Dovish The Fed, Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan
Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi berpotensi menopang permintaan dan impor. Di sisi lain, ekspor menghadapi perlambatan permintaan global, terutama dari China, serta ketidakpastian perdagangan dunia.
Josua mencatat, posisi cadangan devisa US$ 146,5 miliar pada Agustus juga masih hampir US$10 miliar lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai US$ 156,47 miliar.
“Jadi kenaikan Agustus merupakan pemulihan, belum pembalikan penuh dari kecenderungan penurunan sepanjang 2026,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














