kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.675   11,00   0,06%
  • IDX 6.628   -8,29   -0,12%
  • KOMPAS100 866   -1,10   -0,13%
  • LQ45 656   -1,74   -0,26%
  • ISSI 232   1,12   0,49%
  • IDX30 367   -1,05   -0,29%
  • IDXHIDIV20 453   -1,40   -0,31%
  • IDX80 99   -0,03   -0,03%
  • IDXV30 126   0,66   0,53%
  • IDXQ30 117   -0,45   -0,39%

Aktivitas Anak Gunung Krakatau Menurun, Badan Geologi: Erupsi Menerus Berakhir


Senin, 07 September 2026 / 11:44 WIB
Aktivitas Anak Gunung Krakatau Menurun, Badan Geologi: Erupsi Menerus Berakhir
ILUSTRASI. INDONESIA-VOLCANO/ (via REUTERS/PVMBG)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung dilaporkan mulai melandai usai mengalami episode erupsi menerus selama 25 jam. 

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa pola erupsi kini kembali pada karakteristik letusan ringan secara berkala.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan, episode erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB telah resmi berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah periode tersebut usai, pengamatan menunjukkan adanya perubahan pola letusan di pusat kawah.

Baca Juga: BGN Hentikan Sementara Pelayanan MBG di Wilayah Terdampak Erupsi Anak Krakatau

"Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut," ujarnya melalui keterangan resmi, Senin (7/9/2026).

Kendati episode erupsi panjang telah usai, data pemantauan pada periode 6–7 September 2026 mencatat tingkat kegempaan yang masih tinggi. Badan Geologi merekam puluhan gempa low frequency, gempa hybrid, hingga tremor menerus, sehingga status gunung api tersebut dipertahankan pada Level III (Siaga).

"Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," jelas Lana.

Guna mengantisipasi risiko bahaya vulkanik, Badan Geologi mengimbau masyarakat, wisatawan, serta pendaki untuk tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga di sekitar Banten dan Lampung juga diminta tetap waspada terhadap paparan abu vulkanik dan memfilter informasi.

"Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami. Warga diminta beraktivitas normal sambil terus mengikuti arahan BPBD setempat," kata Lana.

Saat ini pemantauan intensif terus dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Pasauran di Kabupaten Serang, Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Baca Juga: Yield SBN Tembus 7%, Nilai Portofolio BI Terancam Tertekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×