kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Pengganti kereta cepat hanya butuh Rp 30 triliun


Selasa, 08 September 2015 / 21:10 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Kementerian Perhubungan (Kemhub) memperkirakan nilai proyek kereta berkecepatan sedang sebagai pengganti proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan menelan dana hingga Rp 30 triliun.

Angka itu jauh di bawah harga kereta cepat yang diperkirakan hingga Rp 70 triliun.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemhub Hermanto mengatakan hal itu saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/9/2015).

Dia menjelaskan, kereta berkecepatan sedang itu memiliki kecepatan maksimal 200 kilometer per jam.

Dengan kecepatan itu, diperkirakan waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi 1 jam.

Sementara, dengan kereta cepat yang kecepatan maksimal di atas 300 kilometer per jam, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 30 menit.

Sebenarnya, apabila pembangunan kereta berkecepatan medium Jakarta-Bandung jadi dibangun,  hal itu bukan proyek pertama.

Pasalnya, saat ini Kemhub juga sedang membangun kereta berkecepatan sedang di Sulawesi.

"Perlu diketahui kita di Sulawesi ini kecepatannya 200 kilometer per jam. Iya untuk yang Parepare. Nanti operasional, speed-nya 150 kilometer per jam," kata Hermanto.

Sebelumnya, pemerintah menyerahkan megaproyek kereta cepat atau High Speed Railways (HSR) Jakarta-Bandung kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan investor secara business to business atau komersial.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, usai rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Jakarta, Kamis (3/9/2015).

“Jadi, Bapak Presiden sepakat bahwa pembangunan kereta cepat dari Jakarta ke Bandung itu tidak menggunakan APBN, karena saat ini sudah ada jalur eksisting kereta api,” ucap Jonan. (Yoga Sukmana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×