kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.857   14,00   0,08%
  • IDX 8.218   -47,48   -0,57%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 831   -8,76   -1,04%
  • ISSI 295   -1,02   -0,34%
  • IDX30 433   -2,76   -0,63%
  • IDXHIDIV20 518   -3,55   -0,68%
  • IDX80 129   -1,20   -0,92%
  • IDXV30 143   -0,15   -0,10%
  • IDXQ30 140   -1,14   -0,81%

Pengamat: Kunci Perkuat Rupiah Ada pada Kemampuan Pemerintah Menarik FDI Masuk ke RI


Rabu, 21 Januari 2026 / 21:23 WIB
Pengamat: Kunci Perkuat Rupiah Ada pada Kemampuan Pemerintah Menarik FDI Masuk ke RI
ILUSTRASI. BI Optimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk Menarik Masuk Modal Asing (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, untuk mengubah persepsi pasar yang berdampak pada pelemahan rupiah, Ia menekankan agar pemerintah lebih meningkatkan kemampuannya dalam menarik arus modal masuk (capital inflow) asing atau foreign direct investmen  ke Indonesia.

Ia menyebut yang diharapkan pasar saat ini bukan hanya stabilisasi jangka pendek melalui kebijakan moneter, melainkan kemampuan pemerintah dalam menarik capital inflow yang berkelanjutan, khususnya di sektor riil.

Menurutnya, arus modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI) menjadi kunci untuk memperkuat fundamental ekonomi dan menopang nilai tukar rupiah. Selain itu, pasar juga menginginkan perbaikan pada neraca transaksi berjalan.

Baca Juga: Penyederhanaan Regulasi Investasi Tak Jamin FDI Langsung Meningkat

“Yang diinginkan pasar adalah pemerintah bisa menarik capital inflow di sektor riil atau FDI dan mampu menciptakan current account surplus/CAD (defisit transaksi berjalan), tidak hanya mengandalkan trade balance (neraca dagang),” kata Budi kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).

Menurut Budi, kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat nilai rupiah pada dasarnya memang membutuhkan dukungan dana yang besar, terutama dalam pelaksanaan intervensi di pasar valuta asing.

Baca Juga: Penurunan FDI Bukan Hanya di Indonesia, Ketidakpastian Global Jadi Biang Kerok

“Saya tidak tahu berapa banyak dana yang digunakan BI untuk intervensi pasar, tetapi langkah itu harus dilakukan dan memang perlu disiapkan dana yang lebih besar,” ujar Budi.

Ia menilai keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan sudah tepat, mengingat tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar apabila BI menurunkan suku bunga acuan. Pasalnya, tanpa penurunan suku bunga saja, rupiah telah melemah hingga mendekati Rp 17.000 per dolar AS.

“Tanpa menurunkan bunga saja, rupiah sudah melemah sampai Rp 17.000 per dolar AS, apalagi kalau diturunkan,” jelasnya.

Baca Juga: Ekonom HSBC Ingatkan Indonesia Tak Tertinggal dari Vietnam & Malaysia dalam Tarik FDI

Selanjutnya: Skor Akhir Al Nassr vs Damac (22/1): Prediksi Mencengangkan di Laga Krusial!

Menarik Dibaca: Skor Akhir Al Nassr vs Damac (22/1): Prediksi Mencengangkan di Laga Krusial!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×