kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Pengamat: Harga BBM kembalikan ke mekanisme pasar


Senin, 31 Juli 2017 / 14:53 WIB
Pengamat: Harga BBM kembalikan ke mekanisme pasar


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pengamat Energi Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) untuk jenis premium sebaiknya dikembalikan ke mekanisme pasar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban masyarakat dan pemerintah.

Komaidi menjelaskan, sejak subsidi dicabut, evaluasi harga premium yang dilakukan setiap tiga bulan sekali cukup memberatkan. Apalagi, jika harga keekonomian jauh di atas harga yang berlaku.

"Kalau selisih antara harga yang berlaku dengan harga keekonomian Rp 300-Rp 500 per liter digeser ke (penyesuaian) harian, penyesuaian harganya tidak besar. Seperti pertamax," kata Komaidi kepada KONTAN, Senin (31/7).

Lebih lanjut menurutnya, saat ini anggaran subsidi dari pemerintah tidak mencukupi. Akibatnya, Pertamina yang harus menanggung beban subsidi tersebut.

Hal ini akan berdampak pada kerugian korporasi. Penerimaan pajak dari perusahaan itu lanjut dia, bisa menurun. Tak hanya itu, penerimaan dividen dari BUMN juga akan menurun.

"Kalau memang tidak subsidi ya silahkan korporasi tentukan. Sekarang ini saya melihatnya abu-abu. Pemerintah seolah-olah ingin kontrol, tetapi dalam praktikya pemerintah tidak mau berkorban," tambah dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×