kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.880   22,00   0,12%
  • IDX 6.092   -25,13   -0,41%
  • KOMPAS100 793   -1,17   -0,15%
  • LQ45 598   -1,56   -0,26%
  • ISSI 212   -1,49   -0,70%
  • IDX30 338   -0,71   -0,21%
  • IDXHIDIV20 414   -1,85   -0,45%
  • IDX80 90   -0,23   -0,25%
  • IDXV30 111   -0,66   -0,59%
  • IDXQ30 108   -0,39   -0,36%

Penetapan UMP 2023 Akan Gunakan Aturan Turunan UU Cipta Kerja, Bisakah?


Rabu, 24 Agustus 2022 / 16:06 WIB
ILUSTRASI. Penetapan UMP 2023 akan menggunakan aturan turunan UU Cipta Kerja. Padahal UU Cipta Kerja statusnya inkonstitusional bersyarat.


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan menggunakan formula yang ada di dalam Peraturan Presiden (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dalam penetapan upah minimum provinsi (UMP) tahun 2023. Persoalannya, PP No 36 Tahun 2021 tersebut merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang saat ini berstatus inskonstitusional bersyarat.

Pengamat Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai, ketika suatu UU berstatus inskonstitutional bersyarat maka UU tersebut dinyatakan cacat secara formil. Hal itu juga berlaku pada aturan turunan dari UU tersebut.

"Bagaimana mungkin bisa menerapkan PP Nomor 36 Tahun 2021 yang payungnya berstatus inskonstitusional bersyarat. Menerapkan PP itu saja sudah salah, karena dengan sendirinya PP itu tidak bisa diberlakukan karena UU payungnya masih inskontitusional," terang Feri pada Kontan.co.id, Rabu (24/8).

Baca Juga: Menteri Yasonna: Revisi UU Cipta Kerja Dulu, Setelah Itu Baru RKUHP

Oleh karena itu, sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menyebutkan, jika sebuah UU dinyatakan inskonstitusional, berlakulah peraturan yang sebelumnya.

"Nah inilah yang menurut saya, upaya untuk mengabaikan putusan MK dan mencoba memaksakan UU Cipta Jerja beserta peraturan turunanya," tambah Feri.

Untuk diketahui, UU Cipta Kerja telah berstatus inskonsitusional bersyarat berdasarkan putusan MK No. 91/PUU - XVIII/2020 pada tahun lalu.

Dalam putusan tersebut MK juga meminta kepada para pembuat UU untuk merevisi UU Cipta kerja dalam kurun waktu 2 tahun sejak putusan itu diucapkan.

Namun hingga saat ini, Badan Legislatif DPR RI bersama pemerintah belum juga memulai pembahasan terkait UU Cipta Kerja.

Baca Juga: Jadwal Pembahasan Revisi UU Cipta Kerja Masih Belum Jelas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×