kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Penerimaan pajak hingga Agustus diprediksi baru 52% dari outlook 2019


Senin, 23 September 2019 / 20:09 WIB
ILUSTRASI. Pelayanan kantor pajak


Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Center for Indonesia Taxation Analysis (Cita) memprediksi penerimaan pajak sampai dengan Agustus 2019 mencapai Rp 820,33 triliun atau 52% dari outlook 2019 di level Rp 1.577,56 triliun.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Yustinus Prastowo, mengatakan, penerimaan pajak periode Januari-Agustus kemungkinan masih shortfall lantaran kurangnya stimulus dunia usaha. Sehingga kontribusi Pajak Penghasilan (PPh) Badan kemungkinan cenderung stagnan.

Baca Juga: Pertukaran data perpajakan (AEoI) belum maksimal, ini saran bagi pemerintah

Yustinus membaca situasi dunia usaha pada semester II-2019 sudah kehabisan katalis. Di mana pesta demokrasi sudah selesai dan pick season pun sudah berakhir. Sehingga laba atas perusahaan semakin tipis yang otomatis memangkas penerimaan pajak.

Terlebih pajak perusahaan pertambangan pun masih dilanda rendahnya harga komoditas akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang menyebabkan turunya harga jual.

Menurut, Yustinus harapan penerimaan pajak sampai akhir tahun melalui Pajak Penambahan Nilai (PPN). Yang cenderung lebih stabil dan mengandalkan volume produksi.

“Yang diharapkan hanya dari PPN. Di semester II-2019 sulit ada katalis yang bisa menstimulus dunia usaha,” kata Yustinus kepada Kontan.co.id, Senin (23/9).

Baca Juga: Upayakan perbaikan kinerja, begini rekomendasi untuk Waskita Karya (WSKT)

Meski demikian, harapan penerimaan PPh masih ada yakni melalui Pertukaran informasi keuangan secara otomatis atau automatic exchange of information (AEoI). Sayangnya, sistem yang telah dijalankan sejak September 2018 ini belum termaksimalkan.

Yustinus menturukan, pemerintah tampaknya perlu menurunkan target penerimaan pajak tahun ini. Sebab, jika pemerintah masih bersih keras maka mau tidak mau akan mengejar Wajib Pajak (WP) yang sudah aktif terdaftar dan membayar. 

Kemungkinan kecil untuk memperluas subyek PPh atau mencari WP yang baru. Adapun sampai dengan akhir tahun 2019, Cita memprediksi penerimaan negara Rp 1.388,25 triliun atau hanya 88% dari target penerimaan tahun ini.

Baca Juga: Sejumlah fraksi di DPR kritik sejumlah poin di APBN 2020

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×